Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 27 Mei 2012 | 09:24 WIB
Gus Choi: Orang-orang Partai Besar Sombong
Inggried Dwi Wedhaswary | Selasa, 28 Oktober 2008 | 12:05 WIB
|
Share:

JAKARTA, SELASA - Sejumlah fraksi mulai menunjukkan sinyal bergerak ke angka 20 persen kursi DPR atau 20 persen perolehan suara nasional dalam Pemilu Legislatif. Ketua Fraksi PKB Effendi Choirie yang akrab disapai Gus Choi mengatakan, jika pilihan akhir adalah voting, menurutnya yang paling tinggi adalah formula 20 persen tersebut.

PKB sendiri, jika diperintahkan pimpinan partai, akan ikut ke angka itu. Sementara, Partai Demokrat dan PPP menyatakan siap naik ke 20 persen. Tidak bergeraknya partai-partai besar ke titik kompromi 20 persen dipandang Gus Choi sebagai sebuah kesombongan.

"Menurut saya, yang paling tinggi 20-20. Kalau saya sih maunya 15-20, tapi kalau partai perintah 20-20 ya diikuti. Tapi orang-orang partai besar sombong-sombong. Maunya dia yang capres, yang lain enggak boleh. Kecenderungannya yang besar-besar memaksa yang kecil. Jadi mereka itu ingin tidak ada pesaing lain, sementara banyak sekali orang yang partainya kecil tapi untuk memimpin bangsa punya potensi," kata Gus Choi disela-sela sidang paripurna DPR, Selasa (28/10).

Jika lobi malam nanti gagal, maka kemungkinan akan kembali ke tiga opsi voting yang telah disepakati, yaitu 15 persen kursi di DPR-20 persen perolehan suara nasional, 20 persen kursi di DPR-20 persen perolehan suara nasional dan 25 persen perolehan kursi di DPR.

Yakinkah PKB akan menang jika akhirnya akan dilakukan voting? Mengingat, adanya perpecahan di tubuh partai tersebut. "Kalau PKB pasti solid, cuma masalahnya datang semua atau tidak. Dari 52 paling yang datang hanya berapa. Enggak ada urusan kubunya Gus Dur atau siapa, ini masalah urusan DPP," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Fraksi Partai Demokrat Syarif Hasan yang ditemui terpisah mengatakan, Demokrat masih bertahan dengan angka 20 persen kursi di DPR. Ia berharap, lobi nanti malam akan menemukan kata sepakat sehingga pilihan voting akan terhindarkan. "Diharapkan fraksi-fraksi lain semangatnya sama, tidak voting. Kalau voting, kita tidak lihat siapa menang, siapa kalah," kata Syarif.