JAKARTA, SELASA — Pemerintah menginstruksikan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) agar segera menarik persediaan mata uang dollar AS ke dalam negeri, menyusul kian anljoknya rupiah yang menembus 10.700 per dollar AS. Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil seusai rapat di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (27/10) sore, menyatakan, langkah itu diambil untuk membantu menstabilkan nilai tukar rupiah terhadap dollar yang makin berfluktuasi dalam beberapa hari terakhir.
"Melemahnya rupiah harus dibuat clearing house sehingga semua BUMN yang punya dollar harus segera memasukkannya ke dalam negeri. Kita akan memonitor soal itu," katanya. Dia menyatakan, pemerintah mengeluarkan kebijakan minimalisasi permintaan valuta asing di BUMN agar suplai dollar meningkat dan mengurangi atau menekan permintaan.
Sofyan juga menjelaskan, khusus untuk PT Pertamina (Persero) diinstruksikan melakukan pembayaran dalam bentuk rupiah bagi berbagai jenis pos pembayaran yang dimungkinkan. "Untuk Pertamina, semua kewajiban yang bisa dibayar dengan rupiah, harus dibayar dengan mata uang lokal supaya mereka tidak memerlukan banyak dollar," katanya.
Sementara itu, Plt Menko Perekonomian yang juga Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, pihaknya terus memantau perkembangan nilai tukar rupiah terhadap dollar. "Seluruh perkembangan, apakah kurs, harga minyak, dan lainnya kita observasi terus-menerus bagaimana pengaruhnya ke APBN dan lainnya," katanya. Ditanya soal anjloknya rupiah terhadap dollar yang mencapai 10.700 di pasar mata uang, Sri Mulyani mengatakan akan diobservasi dan diantisipasi segala kemungkinannya.
Secara terpisah, Thomas Darmawan, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi), mengingatkan, pengusaha makanan dan minuman, khususnya susu, untuk menahan kenaikan harga meski nilai tukar rupiah terus melemah. "Kalau menaikkan harga susu, justru bisa jadi bumerang," ujar Thomas. Ia beralasan, harga bahan baku makanan dan minuman yang diimpor sudah mengalami penurunan akibat krisis global. "Harga-harga komoditas sudah turun hingga 50 persen," katanya.
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin, kembali terpuruk dan berada pada level terendah sejak awal 2006. IHSG BEI ditutup melemah 78,455 poin atau 6,30 persen menjadi 1.166,409. Level ini terendah sejak penutupan 3 Januari 2006 di 1.170,089 atau turun jauh dari level tertinggi yang pernah dicapai 2.830,262 pada 9 Januari 2008.
Sementara itu, indeks LQ45 terkoreksi 16,709 poin atau 7,12 persen ke posisi 217,824, level terendah sejak pertengahan 2005. Penurunan indeks BEI terjadi pada saham-saham unggulan, di antaranya Antam terkoreksi Rp 90 menjadi Rp 850, Bank BRI turun Rp 325 ke posisi Rp 2.950, Telkom anjlok Rp 550 ke level Rp 5.350, Gas Negara negatif Rp130 ke Rp 1.220, Tambang Batubara Bukit Asam terkikis Rp 450 ke Rp 4.150, Bank Mandiri melemah Rp140 ke Rp 1.340, Astra Internasional turun Rp 900 ke level Rp 8.100, dan Bank BCA terjun Rp 225 menjadi Rp 2.200. (VER/WIP/ANT)
