JAKARTA, SENIN - Menteri Negara Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Poernomo Yusgiantoro menjelaskan berbagai kajian dan perhitungan yang dilakukan pihaknya, seiring dengan kencangnya desakan untuk segera menurunkan harga BBM.
Dalam penjelasannya di hadapan anggota Komisi VII BBM, Senin (27/10), ia memaparkan bahwa pagu subsidi BBM dalam APBN-P 2008 sebesar Rp 126,82 triliun telah terpakai melebihi yang dianggarkan. Tercatat, hingga Oktober 2008, dana yang sudah dikeluarkan untuk subsidi BBM sebesar Rp 130,90 triliun.
Dengan penjelasan ini, maka kemungkinan menurunkan harga BBM semakin kecil peluangnya. Pada APBN-P 2008, dianggarkan Rp126,82 triliun sebagai subsidi BBM untuk jenis premium, kerosin (minyak tanah), solar dan elpiji 3 kg.
Rinciannya, subsidi untuk premium Rp 44,74 triliun, minyak tanah Rp 38,69 triliun, solar Rp 33,87 triliun, elpiji 3 kg Rp 9,72 triliun."Realisasi subsidi BBM selalu lebih tinggi dari perencanaan, karena disebabkan dua faktor yaitu volume dan harga. Hal ini mengakibatkan realisasi sudah over dari pagu 126,82 triliun.
Untuk premium, melebihi pagu yang ditetapkan diduga kendaraan-kendaraan yang memakai Pertamax beralih ke Premium bersubsidi. Ini terlihat dari Maret sampai Juli," kata Poernomo dalam penjelasannya.
Hal yang sama juga terjadi pada volume penggunaan minyak tanah dan solar. Berlebihnya volume, menyebabkan membengkaknya subsidi yang dikucurkan pemerintah. Sebagai informasi, realisasi subsidi sampai dengan Oktober untuk masing-masing jenis, premium Rp 42,01 triliun, minyak tanah Rp 43,90 triliun, solar Rp 41,79 triliun dan elpiji Rp 3,32 triliun, sehingga total realisasi subsidi menjadi Rp 130,90 triliun.
"Dari realisasi 3 jenis BBM ini (premium, minyak tanah, solar) dari bulan Januari hingga September, maka untuk Oktober ini menunjukkan pagu BBM sudah habis," ujar Poernomo.
