Laporan Wartawan Kompas Ahmad Arif
DEN HAAG, SENIN — Konferensi Pemuda dan Pelajar Indonesia se-dunia di Den Haag yang dimulai sejak Sabtu (24/10), ditutup Minggu (25/10) malam di kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Den Haag. Konferensi ini menghasilkan kertas kebijakan mengenai pembentukan pusat data dan informasi tesis nasional.
Ketua Pantia Konerensi, Cristian Santoso mengatakan, rekomendasi ini didasari oleh banyaknya karya ilmiah pelajar Indonesia yang belum terdokumentasi sehingga tidak bisa dimanfaatkan oleh Pemerintah, lembaga atau instansi di Indonesia, maupun berbagai pihak yang membutuhkan.
Duta Besar Indonesia di Belanda, JE Habibie, saat penutupan konferensi mengatakan, akan membawa kertas kebijakan itu kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. “Saya akan antar kertas kebijakan itu langsung kepada Presiden. Ini karya pemuda dan pelajar, yang merupakan kesinambungan dari 100 tahun gerakan pemuda dan pelajar Indonesia,” kata dia.
Selain merekomendasikan pembentukan pusat data dan informasi tesis nasional, konferensi ini juga merumuskan kebijakan kerjasama pendidikan dengan negara donor. Hal ini didasari dengan banyaknya ketidaksesuaian antara kebutuhan bangsa kita dengan beasiswa yang diberikan negara donor.
Para mahasiswa ini juga menyusun lima rekomendasi terkait masalah pangan, infrastruktur, kemaritiman, riset dan teknologi, dan pembentukan masyarakat madani.
Y Widodo, Sekjend PII Belanda, mengatakan, rekomendasi di lima bidang ini masih harus disempurnakan lagi. “Kita akan bentuk tim kecil untuk sempurnakan rekomendasi ini,” kata dia.
JE Habibie berjanji untuk memberi kesempatan pada mahasiswa untuk memperbaiki rekomendasi mereka selama dua minggu, sebelum kemudian akan membawanya ke Presiden. “KBRI Den Haag akan mendukung penuh inisiatif pemuda dan pelajar ini,” kata JE Habibie.

