Konferensi ini juga diikuti dengan diskusi panel dengan Pemuda dan Pelajar Indonesia (PPI) dari lima negara melalui Radio Beijing, Radio Australia ABC, Radio Iran (IRIB), dan Radio Deutsche Welle Jerman.
Presiden Susilo Bambang Yudoyono, yang tengah berada di Beijing untuk menghadiri pertemuan puncak ASEM, melakukan dialog dengan para mahasiswa dan pemuda melalui telekonferensi radio.
Sedangkan para panelis Indonesia yang hadir dalam diskusi di Den Haag adalah Ketua Badan Keuangan Negara (BPK) Anwar Nasution, pengamat pangan HS Dillon, budayawan Emha Ainun Naib, dan Seditjen Perhubungan Darat Ahmad Syukri.
Ketua Panitia Konferensi Pemuda dan Pelajar Indonesia (PII) di Luar Negeri, Cristian Santoso mengatakan, pelajar Indonesia yang berpartisipasi dalam pertemuan ini berasal dari Rusia, Belanda, Jerman, Perancis, Itali, Australia, Arab, Mesir, Maroko, Yaman, dan juga Indonesia.
Konferensi yang akan berlangsung hingga Minggu (26/10) ini akan merumuskan lima rekomendasi terkait masalah pangan, infrastruktur, kemaritiman, riset dan teknologi, dan masyarakat madani. Mereka juga bermaksud membuat pusat tesis nasional dan merumuskan kebijakan kerjasama pendidikan dengan negara donor.
“Banyak tesis mahasiswa di luar negeri yang tidak termanfaatkan dan belum berguna di dalam negeri karena belum ada pusat dokumentasi bersama. Karena itu kita akan buat. Sedangkan masalah beasiswa terkait dengan banyaknya ketidaksesuaian antara kebutuhan negara kita dengan beasiswa yang diberikan negara donor,” jelas Cristian.
Momentum kebangkitan
Presiden Susilo berharap, konferensi ini bisa melahirkan pikiran yang kreatif dan inofatif. Dia berharap, pikiran para mahasiswa bisa dimasukkan ke pemerintah sebagai program kebijakan dan aksi yang nyata. “Konferensi ini bisa dikaitkan dengan 100 tahun peringatan Kebangkitan Nasional dan 100 tahun Gerakan Pemuda Indonesia di luar negeri,” kata dia.
Presiden mengingatkan, Indonesia harus bertekad untuk menjadi negara maju di abad ke-21 ini. Untuk itu ada tiga pilar yang harus diperkokoh, yaitu meningkatkan kemandirian bangsa, meningkatkan daya saing bangsa, dan memba bangun peradaban bangsa yang maju.
Dalam dialog interaktif dengan presiden, Fahmi, perwakilan dari PPI Australia, menyampaikan uneg-unegnya, terutama terkait dengan banyaknya anggota DPR RI yang sering melakukan lawatan ke luar negeri dengan uang rakyat.
Menanggapi hal itu, SBY menyatakan pihaknya sudah berusaha mengurangi kunjungan institusinya ke luar negeri demi efisiensi. “Saya berharap lembaga-lembaga negara lainnya negara melakukan hal yang sama,” kata dia.
Sedangkan dari Jerman, para mahasiswa Jerman mempertanyakan upaya penurunan angka pemiskinan dan pengangguran yang menjadi target kepemimpinan kabinet SBY. Rizki Nugraha, mahasiswa dari PPI Jerman mempertanyakan mengenai tingginya korupsi di Indonesia.
Menanggapi hal itu, Anwar Nasution menyatakan, proses penanganan korupsi di Indonesia menunjukkan kemajuan. “Pejabat tinggi, jenderal, Direktur Bank BI, sekarang bisa ditahan karena korupsi. Ini untuk pertama kali dalam sejarah kita. Memang masih banyak yang harus dilakukan, tapi arahnya sudah pasti,” jelas dia.

