Wajah Suratin (58), pasien kelas III Rumah Sakit Koja Jakarta Utara, tampak lusuh, keringatnya bercucuran. Walau ia telah membuka baju dan bertelanjang dada, tangannya tidak henti mengibas-ngibaskan koran. ”Gerah banget, tidak tahan,” katanya.
Akhir-akhir ini suhu udara yang lembab dan panas tak hanya menyiksa warga Jakarta yang berada di luar, tetapi juga yang berada di dalam ruangan. Suhu panas ini akan terus berlangsung hingga pekan depan. Di beberapa kawasan suhu bisa mencapai hingga 35 derajat Celsius.
Pasien rumah sakit, khususnya kelas III, di beberapa rumah sakit Ibu kota harus berjuang mengatasi rasa panas yang menyiksa. ”Berada di ruangan ini seperti terpanggang sehingga saya tidak bisa tidur siang. Hingga pukul 00.00 juga masih terasa panas. Menjelang subuh baru sejuk,” kata Suratin yang menderita lever dan gangguan pernapasan di ruang kelas III dewasa, RSUD Koja, Jakarta Utara, Selasa (21/10).
Ayah dua anak itu dirawat di bangsal kelas III lantai enam, Ruang 608 Paviliun Mawar. Ruang tersebut menyediakan enam tempat tidur dan semuanya terisi pasien. Saat ditemui, Suratin sedang tidak mengenakan baju. ”Biar lebih adem,” katanya.
Meski sudah membuka baju, badannya mengeluarkan keringat. ”Saya haus, ingin meminum air sebanyak-banyaknya. Namun, dokter melarangnya agar lambung saya tidak kelebihan cairan karena saya menderita lever. Kalau minum air banyak, perut bisa kembung,” ujar Suratin.
Warga Ancol Timur, Jakarta Utara, itu menuturkan, saat masih di rumahnya, ia juga kadang-kadang buka baju kalau panas. Namun, belakangan ini suhu udara terasa semakin meningkat. ”Perubahan itu terasa dari 16 Oktober saat saya mulai masuk rumah sakit,” ujar suami Samijah (52).
Saat itu Suratin duduk tidak ditemani istrinya. ”Istri saya biasanya mengipasi badan saya agar lebih sejuk. Namun, ia juga sering tidak betah di dalam ruangan, lalu keluar sebentar untuk mencari angin. Kalau ia mengipas-ngipasi badan saya, sekujur wajahnya jadi berkeringat,” katanya.
Menjadi pasien di kelas III yang tanpa pendingin ruangan, apalagi di saat udara panas menyengat, membuat pasien juga tidak bisa nyaman beristirahat. Terkadang Suratin bangun dari tempat tidurnya dan duduk di dekat jendela yang sengaja dibiarkan terbuka.
Semua pasien yang dirawat di bangsal kelas III dewasa mengeluhkan hal serupa. Kondisi lebih parah lagi di bangsal anak, yang ada di lantai empat RSUD Koja. Yuni (30) terus-menerus mengipasi tubuh Nabila (6), anaknya yang terbaring lemas di Ruang 408.
Nabila sudah enam hari dirawat di bangsal anak karena menderita demam berdarah dengue (DBD). Suhu badan Nabila mencapai 39 derajat Celsius. ”Suhu badannya suka naik turun, tidak stabil,” kata Yuni dengan wajah prihatin.
Anaknya yang sudah duduk di kelas satu sekolah dasar itu tidak bisa tidur dengan tenang. ”Bagaimana bisa tidur tenang. Suhu badannya panas, lalu ruangan juga panas. Saya sendiri juga sering keringatan. Jangankan pada waktu siang, hingga pukul 11 malam pun ruangan terasa panas sekali,” tuturnya.
Rohy (28), pasien kelas III RS Budhi Asih, juga tersiksa dengan panas yang melanda Ibu kota. Sebenarnya ruangan tempatnya dirawat terdapat penyejuk udara. Namun, penyejuk udara itu rusak.
”Untung jendela di sini bisa dibuka, agak menolong, tetapi masih saja panas. Punggung saya sampai terasa perih karena kulitnya mengering,” kata Rohy yang dirawat di Ruang 501.
Pendingin ruangan sentral di ruang itu memang terlihat rusak. Bahkan, di salah satu lubang udara terlihat berjamur karena kebocoran. Sebuah baskom kecil diletakkan tepat di bawah lubang itu untuk menampung tetesan air.
Rohy mengaku pasrah karena sebagai pasien kelas III yang hanya membayar Rp 27.000 per hari, dia merasa tidak punya hak untuk protes.
Humas RS Cipto Mangunkusumo Poniwati Yacub mengatakan, cuaca panas memang menyebabkan ketidaknyamanan pasien. ”Kami sudah melengkapi semua ruangan, termasuk ruang rawat kelas III dengan pendingin ruangan. Mungkin ada satu-dua unit yang tidak bekerja optimal, tetapi akan segera diperbaiki. Namun, ada salah satu sayap Gedung A yang langsung terkena sinar matahari pagi sehingga berpeluang menyebabkan ruangan makin panas,” kata Poniwati Yacub.
Kepala Subbidang Informasi Iklim dan Agroklimat Badan Meteorologi dan Geofisika Soetamto mengatakan, panas ini akan terus terjadi hingga pekan depan. Penyebabnya, pada masa pancaroba ini, uap air di atmosfer belum banyak.
”Akibatnya, semua spektrum sinar matahari bisa langsung menembus permukaan bumi sehingga suhu udara meningkat 32-33 derajat Celsius. Di beberapa kawasan, suhu bisa mencapai hingga 35 derajat Celsius. Saat ini posisi matahari juga tepat 7 derajat di atas Indonesia sehingga sinar matahari lebih terasa menghunjam ke permukaan bumi,” kata Soetamto.
