JAKARTA, KOMPAS - Departemen Perhubungan hingga kini belum memutuskan perusahaan Jepang yang akan membuat desain mass rapid transit atau MRT jurusan Lebak Bulus-Dukuh Atas.
”Kami belum memutuskan perusahaan mana yang akan dipilih. Perusahaan itu akan membuat desain utama MRT,” kata Menteri Perhubungan Jusman Safeii Djamal menjawab pers seusai seminar ”Revitalisasi Perkeretaapian Indonesia” di Hotel Sari Pan Pacific Jakarta, Selasa (21/10).
Hal senada diungkapkan Direktur Jenderal (Dirjen) Perkeretaapian Dephub Wendy Aritenang. ”Dari tiga perusahaan Jepang, ada satu yang mengalami persoalan internal di Jepang, yaitu PCI (Pacific Consultants International). Jadi, pilihan tinggal dua, antara Katahira & Engineerings International atau Nippon Koei Co.Ltd,” kata Wendy.
Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Bambang Susantono dalam seminar itu menegaskan, MRT di kota-kota metropolitan yang penduduknya lebih dari 5 juta orang merupakan kebutuhan mutlak.
”Sistem transportasi berbasis rel adalah tulang punggung utama dari MRT karena biaya angkutan per orang per kilometer dengan KA enam kali lebih murah dibandingkan dengan bus dan 20 kali lebih murah dibandingkan dengan sepeda motor,” kata Bambang Susantono yang juga Deputi Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Kantor Menteri Koordinator Perekonomian.
Sistem kereta api perkotaan digerakkan tenaga listrik, kata Bambang Susantono, sehingga tidak menimbulkan emisi CO di daerah perkotaan. Sementara itu, bus mengeluarkan emisi CO 15 gram per penumpang per km, kendaraan pribadi 244 gram per penumpang per km, dan sepeda motor 98 gram per penumpang per km.
Proyek MRT Lebak Bulus-Dukuh Atas sepanjang 14,3 kilometer dijadwalkan mulai dikerjakan tahun 2009. Proyek ini dibiayai melalui pinjaman Jakarta Bank for International Cooperation (JBIC) sebesar 96,082 miliar yen dengan kurs Rp 80 per yen atau setara dengan Rp 7,68 triliun.
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengungkapkan, MRT ini akan memiliki 12 stasiun pemberhentian, terdiri atas delapan stasiun layang dan empat stasiun bawah tanah.
Delapan stasiun layang berlokasi di Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M, Sisingamangaraja, dan Senayan. Stasiun bawah tanah berlokasi di Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, dan Dukuh Atas. Satu depo akan dibangun di Terminal Lebak Bulus.
Kecepatan rata-rata MRT direncanakan 32 kilometer per jam dengan waktu tempuh Lebak Bulus hingga ke Dukuh Atas 26 menit. MRT ini memiliki kapasitas angkut 23.000 penumpang per jam untuk satu arah dan sekitar 400.000 penumpang per hari. Kapasitas angkut penumpang pada tahun 2020 diestimasi mencapai 315.000 penumpang per hari. (KSP)

