Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 27 Mei 2012 | 09:15 WIB
Fuel Surcharge Diprediksi Turun Hingga 13 Persen
| Selasa, 21 Oktober 2008 | 21:08 WIB
|
Share:

JAKARTA, SELASA - Terus menurunnya harga BBM dunia, membawa angin baik bagi dunia penerbangan komersial. Maskapai-maskapai diprediksi bakal menurunkan lagi biaya tambahan untuk bahan bakar (fuel surcharge) pesawat.

Ketua Indonesia National Air Carrier Association (Inaca), EmirsyahSatar, memperkirakan fuel surcharge pesawat bakal menurun hingga 13 persen dalam waktu dekat ini. Penurunan tersebut akan terjadi seiring dengan menurunnya harga BBM yang diberlakukan oleh Pertamina.

"Maskapai tidak langsung menurunkan, namun trennya akan menurun hingga 12 persen hingga 13 persen," kata Emirsyah saat ditemui di gedung Departemen Perhubungan, Jakarta, Selasa (21/10).

Meskipun harga BBM dunia terus menurun, dan hingga saat ini cenderung mendekat pada 73 dollar AS per barel, namun maskapai memang tidak langsung menurunkan, karena mengikuti kebijakan Pertamina.

Seperti diketahui, Pertamina menyesuaikan harga BBM dunia setiap dua pekan. Maskapai akan menyesuaikan naik turunnya dengan menetapkan fuel surcharge selama sebulan sekali. "Intinya maskapai tidak mau mengambil keuntungan dari fuel surcharge ini, namun hanya menyesuaikan dari harga BBM nasional," kata Direktur Utama PT Garuda Indonesia tersebut.

Ketua Inaca meminta, dengan terus menurunnya harga BBM ini, maka Pertamina pun seharusnya menurunkan lagi harga bahan bakar pesawat, sehingga tingginya fuel surcharge yang selama ini menjadi penyebab tingginya harga tiket pesawat bisa dipangkas. "Maunya sih harga avtur ini menyesuaikan harga pasar dunia. Ini yang ideal, jadi maskapai pun menerapkan naik turunnya fuel surcharge-nya sesuai dengan harga dunia," ujarnya lagi.

Pada sisi lain, jelasnya, meski harga BBM turun namun nilai rupiah justru merosot. Hal ini menyebabkan maskapai juga sedikit mengalami kesulitan. "Seluruh biaya  pengadaan pesawat dan suku cadangnya kan berdasarkan dollar, namun maskapai menjual tiketnya dengan rupiah. Jadi ini bagaimana perusahaan mengatur manajemennya saja. Kalau tidak bisa ya bakal kesulitan," tandas Emirsyah. (Hendra Gunawan)

Sumber :
Persda Network