Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 27 Mei 2012 | 09:13 WIB
BBM Bersubsidi Turun jika Minyak di Bawah 65 Dollar
Wahyu Satriani Ari Wulan | Selasa, 21 Oktober 2008 | 13:09 WIB
|
Share:

Getty Images/Scott Olson
Alat pompa minyak mentah yang sudah usang terletak di sebuah ladang jagung di New Haven, Illinois, AS, Sabtu (4/10). Produksi minyak di Illinois mencapai puncaknya pada tahun 1980-an. Harga minyak mentah Senin kemarin terus merosot hingga ke level di bawah 90 dollar AS per barrel setelah bulan Juli lalu mencatat rekor tertinggi 147 dollar AS per barrel.

TERKAIT:

JAKARTA, SELASA -Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi dalam negeri diperkirakan akan turun menyusul harga minyak dunia yang terus anjlok hingga dibawah 70 dollar AS.

Menurut pengamat ekonomi dari Center for Information and Development Studies (CIDES) Umar Djuoro harga BBM non subsidi dapat menyesuaikan harga pasar. Jika harga minyak di pasar dunia mengalami penurunan, maka BBM seperti Pertamax dan BBM Industri juga akan turun.

"BBM Non subsidi mengikuti harga pasar. Pertamax dan BBM industri menyesuaikan harga pasar," kata Umar saat dihubungi Kompas.Com, Jakarta, Selasa (21/10).

Namun, menurut Umar, penurunan harga tersebut tidak berlaku bagi BBM subsidi. Pasalnya, sekarang asumsi harga minyak dunia pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2009 terus turun dan mencapai 85 dollar AS per barrel. Akibatnya, pemerintah juga menurunkan subsidi BBM menjadi Rp 73,2 triliun dari sebelumnya yang mencapai Rp 89,4 triliun. "Kalau harga pasar dunia belum mencapai di bawah 65 dollar AS per barrel, BBM bersubsidi belum akan turun," kata Umar.

Lebih lanjut Umar mengatakan agar harga BBM turun dan Pertamina dapat tetap meraih keuntungan, pemerintah dapat menggunakan formulasi harga BBM dunia. Misalnya, harga BBM dapat ditentukan dengan hitungan harga minyak dunia ditambah biaya transportasi, dan ditambah pajak, kemudian ditambah keuntungannya.

Dengan demikian, harga BBM dalam negeri akan menyesuaikan harga minyak di pasar dunia. Jika harga minyak dunia turun, maka harga BBM juga akan turun. Demikian juga sebaliknya. "Penyesuaiannya akan lebih otomatis, seperti di pasar modal. Jadi keuntungannya lebih kelihatan. Ini bisa diterapkan di BBM subsidi maupun non subsidi," tutur Umar.

Tahun 2009 mendatang, Umar memperkirakan, harga rata-rata minyak dunia akan turun berkisar 80 dollar per barrel. Pasalnya, dampak krisis keuangan global dan resesi AS akan mempengaruhi penurunan harga minyak.