Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 12:42 WIB
Kebangkitan Tanah Air dari Daratan Eropa
IGN sawabi | Selasa, 21 Oktober 2008 | 10:12 WIB
|
Share:

GETTY IMAGES/MICHEL PORRO

Laporan Wartawan Tribun Batam, Yon Daryono dari Den Haag

SUDAH
sejak seratus tahun yang lalu kesadaran akan rasa kebangsaan dan cinta tanah air sudah muncul di kalangan pemuda Indonesia. Sebagian besar dipelopori kaum terpelajar yang tengah menuntut ilmu di Eropa, terutama di Belanda. Kilas balik berdirinya Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) yang pada tahun ini menginjak usia ke-100 bakal disajikan dalam dua tulisan bersambung.

Di bawah ini adalah kutipan dari berita yang di muat di sebuah surat kabar Kolonial Weekblad, tertanggal 24 Desember 1908, tentang berdirinya organisasi pelajar Indonesia yang pertama di negeri Belanda. Berita itu ditulis oleh Ketua dari Organisasi Pelajar Indonesia R. Soetan Cansanjangan Soripada dan didokumentasikan oleh KITLV (Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies).

"Tiga tahun yang lalu, saya sudah merencanakan untuk membentuk sebuah perhimpunan para pelajar di sini (Belanda), tetapi saat itu saya terlalu sibuk sehingga rencana itu tidak terwujud. Pada bulan Juni yang lalu, J.H. Abendanon datang berkunjung dan bertanya apakah ada sebuah pemikiran untuk membuat perkumpulan pelajar Indonesia di Belanda. Saya menjawab dengan tegas dan dia mendorong saya dengan antusias agar gagasan itu terwujud. Kemudian saya memilih R.M. Sumitro sebagai mitra kerja untuk mengundang semua Mahasiswa Indies di Belanda untuk mengadakan pertemuan.

Pada tanggal 25 Oktober jam dua siang kita, 15 Mahasiswa Indonesia datang di Hogewoerd 49 Leiden, dimana pertemuan diladakan. Saya meminta R.M. Soemitro untuk memimpin rapat dan R. Hoesein Djadjadiningrat sebagai sekretaris. Setelah nama dan AD organisasi terbentuk Indische Vereeniging terbentuk kemudian dilakukan pemilihan pengurus. Ketua Raden Sutan Casanjangan Soripada dan sekretaris R.M. Soeripto. Pada tanggal 15 November pertemuan kedua diadakan di Den Haag. Raden Mas Panji Sosro Kartono, R. Husein Djadjadiningrat, R Soetan Casanjangan dan Soeripto terpilih untuk merumuskan lebih lanjut AD organisasi."

Demikianlah sejarah terbentuknya Indische Vereeniging. Organisasi yang disebut Indische Vereeniging inilah yang kemudian kelak berubah namanya menjadi Perhimpunan Indonesia, saat Hatta belajar di Belanda pada tahun 1924-1925. Sebuah organisasi pemuda di negeri penjajah yang menggunakan kata "Indonesia".

Kini, di tahun 2008, pemuda Indonesia diingatkan kembali dengan tugas berat mereka sebagai aktor penggerak perubahan bangsa. Tentu saja dengan cara yang berbeda dengan para founding father di awal abad ke-20 di atas.

Beragam permasalahan yang dihadapai bangsa ini tidak lagi berhadapan dengan kuatnya genggaman imperialisme dan kolonialisme, namun justru ada tiga faktor yang melekat di dalam diri bangsa Indonesia, pertama mentalitas, kedua gagap globalisasi, dan ketiga penghargaan terhadap orang lain.

Martin J Gannon, dalam bukunya berjudul Paradoxes of Culture and Globalization, menyebutkan dia sangat kagum dengan perubahan yang terjadi di Cina dari tahun 1988 hingga 1999. Terutama dengan makin dekatnya negeri Cina dengan cita-cita Deng Xiaoping di tahun 1978. Yakni semangat yang sangat terkenal yakni; to become rich is glorious. Melalui sentuhan Deng sebagai Ketua Partai Komunis Cina (CCP), perekonomian negeri itu kini melesat bak anak panah yang dramatis. (*)

Sumber :
Tribun Batam