JAKARTA,SENIN-Suhu Jakarta yang makin panas dalam beberapa pekan terakhir membuat pasien kelas III di beberapa rumah sakit kegerahan. Padahal, pada kurun waktu yang sama pasien di ruangan kelas III di sejumlah rumah sakit di Jakarta jumlahnya meningkat. Mereka merupakan penderita penyakit yang muncul pada masa pancaroba atau masa peralihan musim.
Seorang pembaca Warta Kota mengatakan, kerabatnya yang pasien di ruang kelas III di sebuah rumah sakit di Jakarta makin menderita karena panasnya suhu udara pada siang hari. Sementara, ruang rawat kelas III merupakan kelas paling rendah dan tidak dilengkapi pendingin ruangan.
Untuk mengurangi rasa gerah, penunggu pasien terpaksa mengipasi si pasien dengan karton maupun kipas. "Seluruh pasien di ruangan itu kipas-kipas. Ada yang bisa kipas-kipas sendiri ada yang harus dikipasi keluarganya. Kasihan ngelihat-nya," katanya beberapa hari lalu.
Seperti diberitakan, dalam tiga minggu terakhir, suhu udara di Jakarta dan sekitarnya naik dari 32 derajat Celsius menjadi 35 derajat Celsius. Kondisi ini terjadi karena uap air pembentuk awan di atas Jakarta masih sedikit sehingga mudah terbawa angin yang bertiup ke barat.
Kepala Humas Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pasar Rebo, Jakarta Timur, Dedy Suryadi, mengatakan bahwa demam berdarah denque (DBD), diare, dan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) merupakan jenis-jenis penyakit yang biasa muncul pada masa pancaroba.
Dedy menambahkan, seperti tahun-tahun lalu, saat memasuki musim penghujan, jumlah pasien DBD, diare atau ISPA cenderung meningkat. Para pasien tersebut sebagian besar merupakan anak-anak dan remaja. "Jadi, kami mengimbau agar saat ini warga masyarakat lebih waspada. Apalagi masa pancaroba atau peralihan musim tahun ini lebih panjang dari biasanya dan cukup sulit untuk diprediksi," katanya, Sabtu (18/10).
Namun, hingga akhir pekan lalu, belum ada peningkatan jumlah penderita penyakit-penyakit musim pancaroba di RSUD Pasar Rebo. Menurut Dedy, jumlah pasien rawat inap masih normal. Pada Sabtu lalu, pasien rawat inap di RSUD Pasar Rebo berjumlah 25 orang terdiri atas tujuh pasien DBD (tiga di antaranya anak-anak), sembilan penderita diare (6 anak-anak), dan sembilan penderita ISPA (1 anak-anak).
"Walaupun pasien rawat inap sedikit, kami tidak mau gegabah dan tinggal diam. Kami sudah menyiapkan fasilitas dan obat-obatan untuk mengantisipasi terjadinya lonjakan pasien rawat inap," ujar Dedy.
RSUD Pasar Rebo mampu menampung 250 pasien rawat inap. Saat ini, di rumah sakit tersebut juga telah disiapkan 150 velbed untuk mengantisipasi lonjakan jumlah pasien. Tempat-tempat tidur darurat tersebut bakal dipasang di selasar-selasar rumah sakit jika terjadi lonjakan pasien pada sisa masa pancaroba ini maupun di musim penghujan kelak.
Lonjakan pasien juga belum terjadi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan, Jakarta Pusat. Menurut Kepala Bidang Perawatan RSUD Tarakan, Zuraidah, Sabtu (18/10), pasien rawat inap di rumah sakit tersebut berjumlah 30 orang dengan perincian 16 orang penderita DBD (6 anak-anak), 10 penderita diare (2 anak-anak), dan 4 pasien ISPA.
Meski demikian, RSUD Tarakan juga telah mengantisipasi lonjakan pasien dengan menyiapkan tempat tidur darurat. Kapasitas rawat inap RSUD Tarakan adalah 300 pasien rawat inap sedangkan tempat tidur darurat atau velbed yang telah disiapkan berjumlah 200 velbed. "Seperti tahun lalu, jumlah pasien akan meningkat tajam di awal musim penghujan," ujar Zuraidah.
Zuraidah juga mengimbau warga masyarakat senantiasa melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). "Pada pergantian atau peralihan musim memang sangat rentan penyakit. Untuk mengantisipasi hal itu harus dilakukan dengan kesadaran masyarakat," katanya.bum
