Senin, 31 Agustus 2015

Nasional

Likurai: Tarian Kepahlawanan dari Belu

Jumat, 17 Oktober 2008 | 20:41 WIB

Oleh El Talok

Pada setiap hari raya keagamaan, festival budaya dan acara syukuran, tarian Likurai selalu dipertontonkan. Tarian ini dengan mudah dijumpai di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Memang, sejatinya Tarian Likurai ini berasal dari Daerah Belu. Bahkan Kabupaten Belu identik dengan Kabupaten Likurai. Kabupaten yang beribukotakan Atambua ini, terletak di jantung Pulau Timor, penghasil kayu cendana (ai-kamelin) terbesar di dunia. Kabupaten Belu berbatasan darat langsung dengan Negara Timor Leste. Walau berasal dari Kabupaten Belu, namun tari Likurai sudah dikenal luas dan merakyat di seluruh Daratan Timor, dari Timor Barat sampai Timor Leste; gaungnya telah sampai ke pulau-pulau sekitarnya di Nusantara ini dan bahkan telah tiba ke mancanegara. Bulan lalu, sejumlah wanita Belu, Timor menarikan Likurai ini di Perkumpulan Keluarga Flobamora, di Belanda.

Para wanita Timor, tua-muda, besar-kecil, entah berpendidikan tinggi atau pun buta aksara, baik orang berada maupun kaum sederhana, semua berpadu mengapit tambur di bawah ketiaknya, lalu membentuk barisan atau lingkaran di antara mereka kadang belasan wanita, kadang puluhan, kadang malah bisa ratusan wanita, memukul atau membunyikannya secara dinamis, ritmik, dengan beraneka ragam bunyi atau warna pukulan, namun tetap menjaga kekompakan, tempo, juga dipadukan dengan gerakan tubuh, badan meliuk secara beraturan kesana-kemari seiring bunyi-bunyian yang dihasilkan dari pukulan gendang tersebut. Gendang ini dalam bahasa Tetun Belu disebut Tihar. Tihar ini pasti dipunyai oleh setiap rumah tangga di Kabupaten Belu. Para wanita Timor tentu menyimpan Tihar di rumahnya. Menabuh Tihar disebut Basa-Tihar atau He’uk.

Selain Tihar, satu atau dua wanita lainnya tidak akan membawa Tihar ke dalam lingkaran para penari itu, tetapi membawa Tala. Tala adalah sejenis gong kecil, terbuat dari logam, ukurannya sebesar piring makan, yang sangat cocok ditabuhkan berpaduan dengan pukulan Tihar.

Di samping para wanita--yang menabuh gendang apitan bawah ketiak dengan penuh ritmik-dinamis gerakan tubuhnya, ditambah lengkingan gong--para lelaki pun, karena dibakar semangat oleh keramaian bunyi-bunyian Tihar, Tala dan gerak lincah-gemulai para wanita itu, masuk meronggeng dalam lingkaran.

Kadang, para lelaki tampil lebih heboh daripada para wanita. Sering mereka membawa selendang kecil berukuran panjang dua meter dan mereka akan berperangai seperti elang mengepakkan sayap mencari mangsa. Kadang malah mereka membawa kelewang adat, di mana di pangkal kelewang itu diikat rambut dari kepala musuh yang pernah ditebas dengan kelewang sakti itu untuk menunjukkan sifat kepahlawanan leluhur Timor.

Dalam keramaian itu para lelaki peronggeng akan sesekali berteriak, dan teriakan itu menggelegar menambah riuh-rendah suasana pesta, sepertinya para peronggeng itu mau menunjukkan kejantanan mereka di saat perhelatan itu. Ronggengan lelaki mengiringi para wanita penabuh gendang dan gong itu disebut Haksoke. Ketika ronggengan maut lelaki membahana, para wanita pun semakin gesit dan lincah menabuh Tihar dan meliuk-liukkan tubuhnya. Panas cuaca, keringatan, siapa peduli? Kemeriahan inilah yang menjadi suasana puncak sebuah Tarian Likurai.

Lamanya tarian ini tergantung pada cuaca, kepiawaian, ketahanan para penari dan peronggeng, ketersediaan waktu dan tempat. Cuaca cerah, Tiharnya banyak, Talanya bergaung, para penarinya aduhai, para peronggengnya gagah, tempatnya luas dan teduh, misalkan di tanah lapang, di bawah rindangnya beringin, tarian bakal begitu lama durasinya. Dulu biasanya ditarikan sekitar tujuh jam, dari sekitar jam sepuluh pagi hingga jam lima sore, selama tujuh hari terturut-turut (Dahur No Liban Kalan Hitu Loron Hitu).

Kini ditarikan sekitar empat sampai lima jam saja dan jarang dilangsungkan selama tujuh hari berturut-turut. Seorang penari tidak otomatis menari selama tujuh jam. Tentu tiap orang akan dengan bijaksana memutuskan kapan ia bergabung dalam lingkaran para penari dan kapan ia harus beristirahat sejenak. Dalam waktu istirahat, tentu acara selingan bagi orang Timor adalah mengunyah sirih pinang, menegur-sapa, berbasa-basi sambil menjadi penonton yang memberi komentar-komentar ringan sebagai penyemangat bagi para penari. Selebihnya, mereka menggunakan waktu mengaso tersebut untuk menyantap hidangan pesta yang disiapkan.

ARTI LIKURAI

Dalam Bahasa Tetun Belu, LIKURAI berasal dari dua kata: Haliku dan Rai. Haliku  berarti mengawasi, menjaga, melindungi, memelihara, mengambil, menguasai. Rai berarti Tanah, Bumi, Negeri atau Pulau. Haliku Rai atau kelak disingkatpadukan menjadi Likurai, boleh diartikan sebagai sebuah aksi atau tindakan mengawasi, menjaga, melindungi, memelihara dan mengambil tanah atau bumi, entah tanah itu pada dasarnya milik kita, maupun milik orang lain. Menjaga tanah milik kita sendiri maupun mengambil, dalam arti menguasai tanah milik orang lain, tentu tidaklah mudah. Semuanya perlu perjuangan, pertarungan, pertempuran di medan perang.

Nah, di zaman nenek moyang dulu, orang Belu harus menjaga baik-baik tanahnya untuk tidak dicaplok. Tak jarang leluhur orang Belu harus berperang melawan suku lain yang mengganggu ketenangan hidup warga; atau harus merebut wilayah kekuasaan baru karena bertambahnya anggota suku.

Tercatat bahwa leluhur Belu jago perang, lihai dan banyak kali memenangkan pertempuran. Musuh sering dikalahkan, dipenggal kepalanya. Sebagai buktinya, penggalan kepala musuh itu dibawa ke Tanah Belu, dan ketika itu nafiri (Bobik) dan seruling (Fui) kemenangan ditiup dan pesta syukur dimulai.

Para pahlawan yang pulang bertempur membawa kepala musuh, akan disambut ribuan warga lain, pria-wanita, yang tidak terjun langsung ke medan laga, namun menjaga kampung (Mahein, Makbalin, Makdakan Knua Dato, Kota Dato).
Para pujangga adat (Mako’an), biasanya dipilih dan dipersiapkan tiga orang terbaik, satu sebagai juru bicara dan dua lain mengapitinya, akan memberikan sapaan adat (Hase-Hawaka) kepada Panglima Perang (Meo Ulun) dan rombongan pahlawan (Meo) yang baru pulang dari medan perang dengan hasil gemilang.

Pekikan kemenangan rakyat terhadap para pahlawannya yang pulang dari perang pun digemakan. Pekikan itu disebut Leho.
Para wanita akan membagi tugas, ada yang, dibantu beberapa pria, menyiapkan hidangan buat makan bersama (Hadi’a No Hadar Lamak), lainnya bergegas membawa Tihar masing-masing menunggu di Pintu Gerbang (Kanokar Dato Babasak Dato) membentuk barisan, dan selepas Hase-Hawaka dari pujangga adat, para wanita akan segera menabuh Tihar, memberi hormat tiga kali kepada para pahlawan, lalu secara serentak dan lincah, mereka menabuhnya lebih hidup sembari meliuk-liukkan tubuh lambang sukacita atas kemenangan perang dan bergerak menuju  Istana Agung (Ksadan, atau lengkapnya  Ksadan Dato Molin Dato) Kerajaan (Fohobot-Raibot), mengiringi para Meo yang menang perang dengan membawa serta kepala musuh.

Kepala musuh ditaruh pada sebuah tempat khusus terbuat dari batang kayu yang kuat (Turas Ulu), lalu Likurai pun dilanjutkan, kini dalam bentuk lingkaran, sebagai penghinaan (Hamoe, Hati’as) atas kepala musuh (Funu) yang selama ini menjadi sumber masalah, namun kini telah ditaklukkan, sekaligus demi kehormatan (Hatetu-Harani atau Hafoli) para pahlawan yang berjuang mati-matian membela kebenaran, keadilan dan hidup bangsanya.

Puluhan bahkan ratusan wanita berpadu dalam Basa Tihar, satu atau dua wanita lain membawa gong kecil untuk dipukul (Ta’e Tala) berpadu dengan tabuhan Tihar. Tala dipadukan dengan Tihar menghasilkan bunyi-bunyian yang membangkitkan sukacita, decak kagum dan bangga sekaligus menciptakan suasana sakral dan bernas. Para lelaki yang siap meronggeng pun akan tampil perkasa di kesempatan ini.

Bisa dikatakan bahwa Likurai ini adalah tarian heroik yang pada dasarnya mengandung unsur kekerasan peperangan (Hatuda Malu), sekaligus syukur atas keberhasilan, kesejahteraan dan harga diri sebuah bangsa (Husar Binan Rai Belu Tetuk No Nesan, Di’ak No Kmanek: Bangsa Belu yang bermartabat, berdaulat, berwibawa, adil dan sejahtera).
Kadang unsur magis-mistis terdapat dalam tarian ini, namun kelembutan dan kelincahan para wanita Timor serta kegagahan para prianya pun terbaca nyata dari tarian ini.

MAKNA-MAKNA BARU

Kini Tarian Likurai diberi beberapa makna baru untuk menolong manusia Belu, Timor memperjuangkan dan mencapai hidup yang lebih bermartabat:

1. Tarian Likurai ketika dibawakan dalam upacara keagamaan (biasanya dalam peribadatan Gereja Katolik) mau menunjukkan bahwa sebagai umat beriman, kita harus tampil sebagai pahlawan yang selalu berusaha mengalahkan kejahatan dengan selalu memilih untuk berbuat baik sesuai dengan kehendak Tuhan, demi kebahagiaan kita semua.
2. Tarian Likurai ketika dibawakan dalam menyambut kunjungan tokoh-tokoh pemerintahan, tokoh masyarakat atau pun tamu terhormat, mau menunjukkan bahwa sikap saling menghormati adalah sikap dasariah manusia beradab. Para sesepuh itu layak dihormati dan ini juga menggugah mereka untuk tampil sebagai pahlawan yang siap membela dan mengupayakan kemajuan dan kemandirian segenap rakyatnya.
3. Tarian Likurai ketika dibawakan dalam pelbagai acara syukuran sebenarnya mau menunjukkan kepada kita bahwa kita patut bersyukur kepada Tuhan yang senantiasa memberkati kita, sekaligus kita berterima kasih kepada sesama manusia dan alam semesta yang senantiasa menolong dan menunjang kerja keras kita untuk mencapai idealitas hidup, sesuai yang kita dambakan bersama: hidup yang aman, damai, bersahabat, adil, sejahtera dalam keterpaduan hati sebagai sesama manusia, dengan alam semesta dan dengan kesadaran mendalam bahwa bagaimana pun kita ini makhluk terbatas yang bergantung sepenuhnya pada kekuasaan Tuhan.

Nah, kalau Anda telah ke Pulau Timor, NTT dan Anda belum menyaksikan atau menarikan langsung Tarian Likurai ini entah sebagai penabuh gendang dan gong (wanita) maupun peronggeng (pria), rasanya Anda perlu berkunjung lagi deh ke sana, sambil menikmati makanan khas Timor: Jagung Bose (Batar Fai) dan Daging Se’i (Na’an Tunun), dengan minuman segarnya dari nira pohon lontar (Tua Midar) atau yang agak beralkohol dan bisa memabukkan, Sopi Timor.
Selamat datang dan berlibur ke Kabupaten Belu, Pulau Timor, NTT.

Roma, 14 Oktober 2008

Editor :