Minggu, 21 Desember 2014

News / Megapolitan

Nasi Uduk Kebon Kacang Bikin Kalap

Rabu, 15 Oktober 2008 | 13:31 WIB

"Ini warung nasi uduk Kebon Kacang yang asli," kata sopir bajaj yang mengantar kami. Kepada si sopir kami hanya minta diantar ke warung nasi uduk di Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat, tanpa catatan "warung nasi uduk yang asli".

Begitu keluar dari bajaj, pandangan kami bertumbuk pada spanduk besar bertulis "Kedai Nasi Uduk dan Ayam Goreng Kebon Kacang Zainal Fanani". Di kawasan Kebon Kacang memang ada beberapa warung nasi uduk, makanan khas Betawi, yang ramai dikunjungi orang dan bersaing sengit. Kedai Nasik Uduk Zainal Fanani termasuk yang ramai pengunjung dan memang tempat inilah tujuan kami. Saat kami sampai pun warung sedang ramai. Banyak pria berdasi dan perempuan kantoran yang tengah santap siang.

Pelayan arahkan kami untuk memilih lauk yang tersedia dalam kotak kaca transparan. Ada paha dan dada ayam, ati ampela, sate udang, usus, sate usus, empal, tahu, tempe, bahkan petai yang bisa digoreng atau dibakar.

Setelah memilih lauk kami duduk. Tempat ini punya empat deret meja panjang dengan bangku tanpa sandaran untuk para tamu. Tak lama duduk, pesanan kami datang. Nasi uduk disajikan dalam bungkusan daun pisang yang terbuka dibagian atasnya. Bawang goreng ditaburkan pada bagian yang terbuka itu. Satu bungkus nasi uduk ukurannya kira-kira sekepal tangan orang dewasa. Jadi, agar kenyang orang mesti makan lebih dari satu bungkus. Bumbu kacang yang diberi sedikit kecap disajikan dalam piring terpisah, begitu juga sambal.

Begitu daun pisang dibuka, nasi uduknya langsung buyar. "Nasi uduk yang bagus itu harus buyar, tidak lengket satu sama lain, dan tidak lembek," kata Zainal Fanani, si pemilik warung, saat kami mengobrol seusai makan. Nasi uduknya terasa gurih. Bumbu kacang membuatnya lebih gurih lagi.

Saya semula berniat hanya menghabiskan dua bungkus karena kami masih akan pergi makan ke tempat lain setelah dari warung itu. Namun, karena nasi uduknya benar-benar gurih serta terpengaruh bumbu kacang dan sambal, tanpa sadar saya habiskan lima bungkus.

"Ah, kamu baru makan lima bungkus, ada anak sekolah yang bisa habiskan 10 bungkus, bahkan lebih," kata Zainal.

Rika, istri Zainal Fanani, menjamin, pihaknya tidak memberi penyedap rasa buatan agar masakannya gurih. "Tidak ada penyedap rasa. Untuk ayam pun kami pakai ayam kampung," kata Rika.

Kedai Nasi Uduk dan Ayam Goreng Kebon Kacang Zainal Fanani itu terletak di Jalan Kebon Kacang VIII Nomor 5, hanya puluhan meter dari Jalan Wahid Hasyim dan dalam hitungan seratusan meter dari Blok A, Pasar Tanah Abang. Usaha itu dirintis oleh Abdul Hamid Toha pada 1967.

Abdul memulai usahanya di trotoar, lalu masuk ke halaman rumah orang di Jalan Kebon Kacang I Nomor 63. Putranya, Zainal Fanani, kemudian bergabung dan melanjutkan usaha tersebut ketika Abdul meninggal. Pada 1999 pemilik tempat di Kebung Kacang I meminta mereka pindah. Zainal akhirnya mendapat tempat di Kebon Kacang VIII, beberapa meter dari tempat lama. Di tempat yang lama, ternyata kemudian muncul warung nasi uduk juga.

Untuk beberapa saat pelanggan bingung. Zainal mengatakan, ia sempat kehilangan konsumen karena kondisi itu. Namun, usahanya ternyata bisa bertahan. Ia mengatakan, menu masakan dan caranya mengolah masakan tidak berubah. "Sejak ayah saya memulai usaha ini sampai sekarang, menu tidak mengalami perubahan."

Kedai Nasi Uduk Zainal Fanani buka setiap hari dari pukul 10.00-24.00. Selain di Kebon Kacang, warung itu kini punya cabang di Grogol, Puri Indah, Pecenongan, Radio Dalam, dan Makasar di Sulawesi Selatan.


Editor :