Minggu, 27 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 27 Mei 2012 | 09:03 WIB
Polisi Uji DNA Mayat Bertato Macan
Iwan Santosa | Selasa, 14 Oktober 2008 | 07:23 WIB
|
Share:

RITA AYUNINGTYAS
Inilah gambar tato macan yang terdapat pada lengan kiri atas korban mutilasi yang ditemukan di dalam bus Mayasari Bhakti. Kepala macan ini merupakan satu-satunya alat untuk mengungkap identitas korban.

TERKAIT:

JAKARTA, SELASA — Polisi menguji DNA mayat pria korban mutilasi yang terpotong 13 dan bertato macan yang hingga kini belum diketahui identitasnya.

Kepala Satuan Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Fadil Imran yang ditemui, Senin (13/10), menjelaskan, uji DNA (deoxyribonucleic acid) dilakukan oleh laboratorium polisi dan dikerjakan para dokter kepolisian di Cipinang, Jakarta Timur.

”Kami menunggu hasil uji DNA yang akan dijadikan dasar acuan untuk mengetahui identitas korban mutilasi. Saat ini belum ada data pembanding yang valid karena dua orang yang mengaku kehilangan anggota keluarga, yakni Hasan Basri dan Leo Aritonang, ternyata tidak memiliki kecocokan dengan tubuh korban,” Fadil menjelaskan.

Berdasar keterangan keluarga, diketahui tato kepala macan yang ada di tangan kanan Hasan Basri, warga Bekasi, berbeda dengan tato yang ada di lengan kanan atas mayat korban mutilasi.

Menurut Fadil, tato di lengan kanan Hasan Basri menggambarkan kepala macan dari arah samping dan ada tato Kujang. Selain itu, di dada kanan atas Hasan Basri juga ada tato. Secara kasatmata, itu berbeda dengan ciri-ciri pada mayat korban mutilasi.

”Kecil kemungkinan kalau mayat korban mutilasi adalah Hasan Basri. Ciri-ciri yang ada juga berbeda dengan laporan keluarga dari Leo Aritonang warga Tangerang. Tindakan pelaku mutilasi kemungkinan didasari rasa marah, dendam, ataupun cemburu yang berlebihan,” kata Fadil.

Kini polisi menunggu hasil uji DNA yang akan selesai dalam waktu dekat. Polisi sejauh ini menerima banyak telepon yang menyatakan kehilangan anggota keluarga. Tetapi, baru keluarga Hasan Basri dan Leo Aritonang yang aktif berhubungan dengan polisi.

”Jika dibutuhkan, akan dilakukan uji DNA dengan keluarga Hasan Basri. Tetapi sejauh ini ciri-ciri yang ada tidak sesuai dengan Hasan Basri,” kata Fadil.

Selain itu, banyak penelepon yang hanya sekadar bertanya. Selanjutnya mereka sulit dihubungi kembali oleh polisi.

Potongan tubuh korban mutilasi itu dibawa dalam dua bungkusan plastik pada hari Senin (29/9) sekitar pukul 14.00 di bangku keempat dari belakang bus Mayasari Bhakti jurusan Kalideres-Pulo Gadung. Pembawa bungkusan adalah seorang perempuan. Bungkusan ditemukan di lantai bus saat mengisi bahan bakar di pom bensin dekat Kawasan Industri Pulo Gadung, Jakarta Timur.

Selebaran baru

Polisi mengedarkan selebaran terbaru tentang mayat korban mutilasi di seluruh wilayah Jabodetabek. Fadil menjelaskan, ada informasi baru, yakni tinggi tubuh korban di atas 170 sentimeter, ukuran sepatu di atas nomor 40, sering menjalani pengobatan tradisional yang terlihat dari bekas-bekas di tubuh, dan korban telah disunat. Semua potongan tubuh pria korban mutilasi dipastikan berasal dari satu orang yang sama.

Ketika ditanya apakah tato kepala macan dibuat justru setelah korban dibunuh, Fadil menjawab tato tersebut dibuat sebelum pembunuhan terjadi.

Polisi terus membuka call center +628129508867 untuk menangani kasus mutilasi.