Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 12:45 WIB
Faisal Basri: Bersyukurlah di Tengah Krisis
Caroline Damanik | Jumat, 10 Oktober 2008 | 20:46 WIB
|
Share:

kompas.com/Jodhi Yudono
Faisal Basri

JAKARTA, JUMAT - Indonesia patut bersyukur karena negara ini tak memusatkan pasarnya ke AS dan Eropa sehingga tidak mengalami dampak yang sangat besar akibat krisis global. Hal ini diungkapkan pengamat ekonomi Faisal Basri dalam diskusi terbatas Kompas hari ini, Jumat (10/10).

"Porsi ekspor Indonesia ke AS, Eropa, Jepang sudah menurun. Bergeser ke negara-negara East Middle dan ASEAN," ujar Faisal. Imbas yang begitu besar dialami oleh negara-negara dengan volume ekspor besar ke negara-negara Barat dan juga negara-negara yang terkait erat dengan sektor finansial negara Barat.

Ia mengatakan perekonomian Indonesia dan sektor keuangannya tak terkait erat dengan sektor finansial. Di antara negara ASEAN, Singapura yang paling anjlok karena pasarnya mengikuti Amerika.

Dalam krisis, Indonesia juga diuntungkan karena harga minyak sedang turun ke level 80 dollar AS per barel serta current account yang masih surplus meski nilai surplusnya memang menyusut. Kondisi sektor perbankan juga cukup terkonsolidasi karena sebenarnya besarnya indikator kesehatan perbankan berada di atas rata-rata dari negara tetangga, bahkan bisa dikatakan yang terbaik.

Kecuali nilai Liquidity Debt Ratio (LDR) yang tentu saja menjadi peringatan bagi beberapa bank BUMN, seperti BRI, BNI dan Bank Mandiri. Untuk itu, Chief Economist Bank Nasional Indonesia (BNI) A. Tony Prasetiantono berharap agar pemerintah mengeluarkan anggaran negara untuk memberikan stimulasi untuk merespon turunnya pertumbuhan perekonomian dunia yang juga berpengaruh terhadap turunnya pertumbuhan perekonomian Indonesia.