JAKARTA, KAMIS – Di dunia saat ini, tingkat kematian dan kesakitan masih tinggi akibat penyakit-penyakit yang berkaitan dengan air, sanitasi dan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti rendahnya kebiasaan cuci tangan pakai sabun pada saat yang penting. Oleh karena itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menetapkan tahun 2008 sebagai tahun Sanitasi Internasional.
Public-Private Partnership for Handwashing with Soap (PPP-HWWS) atau KPS-CTPS yang terdiri dari Unilever (Lifebuoy), WSP, UNICEF, ESP, HSP, Aman Tirta, Reckitt Benckiser, dan beberapa badan internasional lainnya telah menetapkan tanggal 15 Oktober sebagai Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia (HCTPS) yang akan dirayakan bersama oleh jutaan anak di 52 negara, di 5 benua, untuk mendukung dan menyukseskan tahun Sanitasi Internasional 2008. Hal ini juga dilakukan untuk menarik perhatian dan meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya cuci tangan pakai sabun.
Upaya percepatan peningkatan perilaku cuci tangan pakai sabun (CTPS) ini perlu dilakukan karena fakta menunjukan bahwa masih rendahnya kebiasaan CTPS pada saat penting dalam masyarakat yaitu sebelum makan 14,3%, sesudah buang air besar 11,7%, setelah menceboki bayi 8,9%, sebelum menyuapi anak 7,4% dan sebelum menyiapkan makanan hanya 6% (Data survei Baseline Environmental Services Program (ESP-USAID) 2006. Tangan merupakan salah satu jalur penularan berbagai penyakit menular seperti diare, ISPA, Kecacingan, Hepatitis A.
“Kita harus akui bahwa sampai sekarang kondisi kesehatan sebagian besar masyarakat Indonesia masih sangat memprihatinkan. Salah satu indikator rendahnya status kesehatan di Indonesia adalah tingginya angka kematian bayi & balita yang disebabkan oleh diare dan ISPA. Berdasarkan data dari Subdit Diare, Direktorat Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Departemen Kesehatan RI (tahun 2003), diare masih merupakan penyebab kematian nomor dua pada Balita, nomor tiga pada bayi, dan nomor lima pada semua umur.” kata dr. Wan Alkadri, M.Sc, Direktur Penyehatan Lingkungan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Secara nasional, angka kesakitan akibat diare meningkat dari tahun 2003 ke tahun 2006, dari 347 per 1000 penduduk menjadi 423 per 1000 penduduk. Kejadian Luar Biasa tahun 2006 terjadi di 16 Provinsi dengan kasus lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun 2005, yaitu 10,980 penderita, dan angka kematian 2.52%. Sedangkan prevalensi kecacingan tahun 2006 pada anak SD, di 27 Provinsi adalah 32,6% lebih tinggi dibandingkan tahun 2005, yaitu 28.4% .
Dari berbagai riset, risiko penularan penyakit dapat berkurang dengan adanya peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat, perilaku hygiene, seperti cuci tangan pakai sabun pada waktu penting. Menurut penelitian Fewtrell l, Kaufmann RB, et al, (2005) perilaku cuci tangan pakai sabun merupakan intervensi kesehatan yang paling murah dan efektif dibandingkan dengan hasil intervensi kesehatan dengan cara lainnya dalam mengurangi risiko penularan berbagai penyakit termasuk flu burung, kecacingan dan diare terutama pada bayi dan balita.
Departemen Kesehatan melalui KPS-CTPS yang salah satu mitranya adalah Unilever, melalui brand Lifebuoy, akan merayakan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia Pertama (HCTPS) pada tanggal 15 Oktober 2008 di empat kota, Jakarta (Wisma Aldiron, Pancoran), Bandung (Lapangan Gasibu), Yogyakarta (Alun-alun Kota), dan Malang (Stadion Kanjuruan). Kegiatan ini akan diikuti oleh lebih dari 40,000 siswa sekolah dasar dan orang tua. UNICEF, juga merupakan salah satu mitra dalam KPS-CTPS, yang akan menyelenggarakan kegiatan serupa di 22 kabupaten, di enam propinsi.

