JAKARTA, SELASA- Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie, membantah telah memiliki ancang-ancang di bidang politik, termasuk menjadi calon wakil presiden dari sebuah partai politik. Jimly mengaku masih cinta menjadi negarawan ketimbang politikus.
"Parpol nanti, belum tahu. Tapi sebaiknya dari negarawan jangan berubah jadi politisi lah. Sebab susah juga ya. Ini para politisi berubah jadi negarawan, seperti Pak Mahfud, saya ucapkan selamat, Pak Akil. Masak yang sudah jadi negarawan balik lagi ke parpol jadi politikus," kilahnya ketika temu wartawan di Gedung MK, Selasa (7/10).
Menurut dia, keputusan ini atas saran dari ulama-ulama besar yang ditemuinya. Para ulama menasihatinya supaya menjaga posisi netral, tetapi tetap dekat dengan semua parpol, sehingga mereka tidak masalah dan rikuh mengundang saya," jelasnya.
Demikian pula ketika wartawan bertanya tentang isu yang menyebutkan dia merupakan calon hakim agung yang akan menggantikan Bagir Manan. Jimly mengatakan, Ketua MA tidak mungkin dipilih dari luar, seperti halnya di MK.
"Tidak mungkin itu. Hakim agung itu harus dipilih dari MA, tidak bisa dari luar," tuturnya. Menurut dia, tidak ada yang berubah ketika dirinya hengkang dari MK. Hanya statusnya saja yang berbeda.
"Setelah ini, saya tetap punya tanggung jawab mengajar dan video conference masih bisa terlibat. Lagipula dengan begitu, saya juga bisa bebas ngomong. Bisa berpartisipasi membahas apa saja," kata dia.

