Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 21:13 WIB
Pengangguran Stres, Keluarga Ditembaki Lalu Bunuh Diri
Hindra | Selasa, 7 Oktober 2008 | 15:52 WIB
|
Share:

AP Photo
Rumah tersangka pelaku bunuh diri setelah membantai lima keluarga diperiksa polisi di Los Angeles, California, AS.

LOS ANGELES, SELASA – Karthik Rajaram (45), seorang pengangguran di Los Angeles, Amerika Serikat, tega menghabisi nyawa seluruh anggota keluarganya di rumahnya di San Fernando Valley, dengan cara menembak mati, sebelum kemudian dia menembak dirinya sendiri.

Korban tak bersalah tersebut adalah Indra Ramasesham (69), ibu mertuanya; Subasari Rajaram (39), istrinya; ketiga anak mereka, Krishna Rajaram (19) dan dua orang lagi yang tidak disebut namanya, berusia 12 tahun dan 7 tahun.

Karthik Rajaram, yang memiliki gelar MBA di bidang keuangan, diduga stres karena sudah beberapa bulan ini menjadi pengangguran dan terbelit masalah keuangan.
Pembantaian ini pertama kali diketahui, Senin (6/10), berdasarkan laporan tetangga mereka. Namun, pembunuhan itu diperkirakan berlangsung hari Sabtu, terakhir kali Karthik terlihat.

Menurut Wakil Kepala Polisi Los Angeles Michael Moore, polisi pertama menemukan jenazah Indra yang tergeletak di kamarnya di bawah tangga. Kemudian, polisi menemukan jenazah Krishna di kamar utama yang terletak di lantai dua. Subasari ditemukan tak bernyawa dengan bekas luka tembak di kepala di salah satu kamar tak jauh dari Krishna.

Di kamar lainnya, kedua anak juga ditemukan tidak bernyawa dengan bekas luka tembak di kepala. Di sini jugalah, Karthik, pemegang gelar MBA di bidang keuangan, roboh setelah menembak kepalanya sendiri.

Mantan karyawan kantor akuntan publik terbesar di dunia, PricewaterHouse Coopers, ini meninggalkan tiga surat. Di surat pertama ia menyatakan bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut. Di surat kedua, ia merinci transaksi keuangan yang ia lakukan, yang berujung pada ketidakberuntungan. Sementara itu, tidak jelaskan apa isi surat ketiga.

”Pada surat tersebut, ia menjelaskan tragedi yang menimpa dirinya, dan perenungannya terhadap solusi akhir yang diambil. Seseorang telah merampas hidupnya, dan yang lain telah mengambil kehidupan keluarga dan dirinya sendiri,” ujar Moore.

Moore menduga, surat sepanjang tujuh halaman tersebut sudah dipersiapkan dalam jangka waktu tertentu. ”Maka itu, jelaslah pembunuhan ini bukan sesuatu yang bersifat spontan,” ujar Moore.

Keluarga Sempurna

Menurut Moore, berdasarkan temuan di rumah tersebut, keluarga Karthik merupakan salah satu keluarga sempurna di Amerika. “Mereka saling mencintai satu sama lain. Bahkan, kedua orangtua tersebut telah memberikan kamar utama mereka ke anak tertua mereka,” ujarnya.

Moore melanjutkan, ”Namun, keluarga tersebut telah dihancurkan oleh ayah yang baru saja mendapat kesulitan, dan berpikir cara yang diambilnya merupakan jalan keluar yang dapat diterima.”

Sumber :
AP