Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 21:03 WIB
"Hot Money" Mulai Balik Lagi
| Jumat, 26 September 2008 | 12:50 WIB
|
Share:

JAKARTA, JUMAT -  Meski sempat kabur setelah pasar keuangan Amerika Serikat terguncang, dana-dana asing alias hot money beberapa hari terakhir mulai balik lagi ke pasar keuangan Indonesia. Indikasinya, dana asing yang masuk ke Surat Utang Negara (SUN) menumpuk lagi.

Pada tanggal 5 September 2008 lalu, nilai dana asing yang bercokol di SUN masih sebesar Rp 108,37 triliun. Angka itu merupakan rekor tertinggi dana asing di SUN sepanjang tahun ini. Namun karena sentimen negatif membelit pasar uang global, investor asing ramai-ramai mulai mencairkan dana di SUN.

Alhasil pada 12 September kemarin, hot money di SUN menyusut tinggal Rp 107,12 triliun. Dana asing semakin turun drastis begitu berita kebangkrutan raksasa bank investasi, Lehman Brothers, mengguncang pasar uang global. Dalam waktu sekejap, dana asing yang tersimpan SUN menipis. Per 19 September 2008 tercatat Rp 105,06 triliun. Ini berarti hanya dalam tiga pekan saja, hot money yang kabur dari SUN sudah mencapai Rp 3,31 triliun. .

Namun menurut Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan Rahmat Waluyanto, sekarang investor asing sudah mulai kembali lagi masuk ke SUN. "Keadaan pasar kembali membaik setelah Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengumumkan rencana darurat alias rescue plan," ujarnya, kemarin.

Rahmat merujuk ke dana asing di SUN per dua hari lalu yang sudah meningkat lagi menjadi Rp 105,79 triliun atau setara dengan 19,53% dari total' nilai SUN. "Dalam sepekan sejak 19 September, dana asing yang masuk ke SUN mencapai Rp 730 miliar," tuturnya.

Rahmat menjelaskan, dana asing sempat kabur lantaran adanya ketidakpastian masalah financial di AS. Saat itu, pemodal asing tak hanya mengamankan portofolio investasi mereka, tapi juga mengambil untung alias profit taking. "Asing yang mau tetap menyimpan dananya lari ke investasi jangka panjang seperti SUN. Sedangkan hedge fund melakukan profit taking," kata Rahmat.

la menilai, kaburnya dana asing dari SUN-belum membahayakan pasar keuangan Indonesia. "Kalau ada besarnya penarikan dana sampai Rp 30 triliun, seperti yang terjadi di tahun 2005, baru situasinya mencemaskan," ajar Rahmat.

Sudah terlewati

Ekonom Standard Chartered Fauzi Ikhsan menilai, kembalinya dana asing di SUN beberapa hari terakhir ini dipicu oleh kepercayaan investor yang mulai pulih. "Investor menilai, kondisi yang terburuk sudah terlewati," ujar Fauzi.

Pasar juga memprediksi Konggres AS akan memberikan persetujuan atas rencana penyelamatan financial atau bailout sebesar US$ 700 miliar yang digagas Pemerintah AS. "Tampaknya, Kongres AS tidak punya banyak pilihan selain program ini," kata Fauzi.

Fauzi yakin, adanya sentimen positif dari pasar global plus nilai tukar rupiah yang relatif stabil dan tak tertekan lagi, mendorong investor asing untuk kembali memutar uang di Indonesia. "Dana asing akan masuk kembali ke SUN, Sertifikat Bank Indonesia (SBI), dan pasar saham," kata Fauzi.

Direktur Pengendalian Moneter BI Eddy Sulaiman Yusuf juga memperkirakan dana asing di SBI kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir. Hanya saja Eddy tak mau membuka berapa besar dana asing yang bercokol di SBI,saat ini. (Sanny Cicilia Simbolon)

Sumber :
KONTAN