Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 11:39 WIB
Rencana Aksi Segitiga Terumbu Karang Disempurnakan
Maya Saputri | Rabu, 24 September 2008 | 02:21 WIB
|
Share:

KOMPAS/LASTI KURNIA
Jejak keberadaan koloni terumbu karang yang telah mati menjadi karakter unik kawasan tepi pantai yang berkarang di Pantai Pasir Putih, Desa Sukahujan, Malingping, Lebak, Banten, Senin (7/4). Kawasan pantai karang merupakan ekosistem yang sanggup beradaptasi dengan kondisi alam yang ekstrem, seperti pasang surut laut, gelombang tinggi, perubahan cuaca ekstrem, juga salinitas air laut yang berubah-ubah.

TERKAIT:

JAKARTA, RABU - Rencana aksi pembentukan Segitiga Terumbu Karang (The Coral Triangle Initiative/CTI) semakin disempurnakan dalam seminar CTI untuk mengumpulkan pendapat dari berbagai elemen. Hal itu dikemukakan Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K), M Syamsul Maarif saat membuka seminar CTI di Hotel Menara Peninsula, Jakarta, Selasa (23/9).

Syamsul mengatakan segitiga terumbu karang seluas 75 km persegi ini melintasi enam negara yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua New Guinea, Timor Leste, Kepulauan Solomon. "Maka dalam pertemuan di Manila 12-14 November nanti kita akan minta dukungan dari negara-negara maju untuk berpartisipasi dalam implementasi rencana aksi CTI," katanya.

Ia menjelaskan sebelumnya pada Agustus 2007, Presiden telah mengusulkan CTI pada 5 negara yang termasuk segitiga terumbu karang dan dua anggota APEC yakni Amerika Serikat dan Australia. "Anggaran yang telah dikucurkan oleh AS mencapai 4,3 dollar AS dan Australia 1,5 dollar AS, ini semata-mata untuk mengembangkan upaya penyelamatan terumbu karang dengan menjalankan aksi secara tidak langsung," ujarnya.

Upaya tersebut, dikatakan Syamsul, diberikan dalam bentuk memberdayakan ekonomi kerakyatan masyarakat supaya tidak melakukan pengrusakan terumbu karang di wilayah tersebut, misalnya overfishing, illegal fishing. "Maka dengan CTI ini, kita bisa melarang orang untuk melakukan penrusakan terumbu karang, maka sebelum dideklarasikan kita sempurnakan dulu rencana aksinya dengan pendapat dari berbagai instansi pemerintah, NGO, peneliti dan akademisi," tuturnya.

Mengenai solusi perusakan terumbu karang, Syamsul mengatakan akan menerapkan manajemen buka tutup dalam penangkapan ikan. "Jadi kita tidak melarang penangkapan ikan, tapi akan diterapkan waktu-waktu tertentu tidak boleh menangkap ikan demi menunjang upaya konservasi laut dan sumber daya di dalamnya," ujarnya.