Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 20:33 WIB
Nyamplung, Penahan Angin yang jadi Bahan Bakar
Maya Saputri | Selasa, 23 September 2008 | 17:58 WIB
|
Share:

JAKARTA, SELASA - Selain kadar rendemen minyaknya lebih tinggi sekitar 70 persen, nyamplung dipilih sebagai sumber energi biofuel karena masih memiliki kelebihan lain. Di antaranya, pohon nyamplung tersebar hampir merata secara alami di Indonesia, berbuah sepanjang tahun, serta menjadi tanaman konservasi di pinggir pantai untuk mengatasi abrasi air laut.

Demikian dikatakan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Departemen Kehutanan Wahyudi Wardoyo kepada Kompas.com, Selasa (23/9). "Nyamplung ini hampir seluruh bagiannya berdaya guna dan berhasil guna serta tidak berkompetisi dengan pemanfaatan pangan," tutur Wahyudi.

Selain itu, dikatakan Wahyudi, tanaman yang tumbuh pada tanah berpasir maka hutan nyamplung dapat berfungsi sebagai wind breaker atau tanaman pertanian dan konservasi

Mengenai budidaya tanaman ini, menurut Wahyudi, mulai dari pembenihan, pembibitan, dan penanaman belum ada kendala. "Benih yang tersedia cukup terjamin dari Tegakan Benih Teridentifikasi di Blok Sagara Anakan Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi dan hutan tanaman di Pulau Jawa," tutur Wahyudi.

Wahyudi menambahkan saat ini tengah mengujicoba alat pengolahan biofuel dari nyamplung menggunakan mesin biodiesel processing. Mesin berkekuatan 20 KVA itu mampu memproduksi 500 kiloliter per hari dari pengolahan nyamplung. "Kami investasikan Rp 540 juta untuk mesin yang mampu mengolah 20 hektar lahan nyamplung setiap hari," kata Wahyudi.