Sabtu, 20 September 2014

News / Kesehatan

Zinc, Mineral Peningkat Kekebalan Tubuh

Selasa, 23 September 2008 | 11:21 WIB

ZINC jarang dibicarakan meskipun sama pentingnya dengan mineral lain yang dibutuhkan tubuh. Zinc membantu pertumbuhan manusia dan meningkatkan imunitas. Tanpa zinc, ratusan enzim dalam tubuh tidak bisa berfungsi.

Zinc yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai seng, dan dalam ilmu kimia dilambangkan dengan Zn, merupakan mineral penting yang terdapat dalam semua sel tubuh mahluk hidup, termasuk tubuh manusia. Lebih dari 300 macam enzim di dalam tubuh manusia memerlukan zinc sebagai kofaktor untuk menjamin optimasi fungsinya.  

Tanpa kehadiran zinc, semua enzim tersebut akan mogok kerja. Dapat dibayangkan apa yang bakal terjadi jika pemogokan besar-besaran pasukan enzim tersebut benar-benar terjadi.

Beberapa bukti ilmiah menunjukkan bahwa banyak penduduk yang masih menderita defisiensi zinc. Hal inilah yang menyebabkan rendahnya sistem imunitas (kekebalan) tubuh seseorang sehingga menjadi sangat mudah terserang berbagai penyakit (Smith, 1988).

Zinc memiliki sebutan sebagai mineral penyembuh yang sangat mendukung fungsi sistem imunitas tubuh. Telah diteliti bahwa kecepatan penyembuhan luka lebih tinggi pada pasien yang tercukupi kebutuhan zinc-nya.

Oleh karena itu, direkomendasikan agar pasien diberi zinc dalam jumlah cukup pada saat pra dan pasca operasi. Terapi zinc juga sudah direkomendasikan bagi pasien yang menderita infeksi pernapasan, luka bakar, pembedahan, berbagai luka traumatis akibat kecelakaan, dan penyakit lain yang sangat membutuhkan kinerja penyembuhan yang baik.

Defisiensi zinc juga diduga sebagai komponen zat gizi utama yang berperan dalam penghambatan proses pertumbuhan dan pematangan seksualitas. Secara biokimia, zinc terlibat dalam biosintesis DNA (asam deoksiribonukleat) dan diduga sebagai aktivator enzim kolagen sintetase, yaitu suatu enzim yang berperan dalam biosintesis kolagen dan meningkatkan perbaikan jaringan (www.1uphealth.com).

Jumlah yang Dibutuhkan
Zinc adalah mineral esensial yang ditemukan pada hampir semua sel. Zinc dapat menstimulasi aktivitas 100 macam enzim dan terlibat sebagai kofaktor pada 200 jenis enzim lainnya. Zinc dinyatakan sebagai mineral yang berperan untuk meningkatkan reaksi biokimia di dalam tubuh. Mineral ini mendukung kinerja sistem imun yang diperlukan dalam penyembuhan luka, membantu memelihara fungsi indra penciuman dan pengecap, serta dibutuhkan dalam sintesis DNA. Zinc juga turut mendukung pertumbuhan yang normal selama kehamilan, masa kanak-kanak, dan dewasa.

Sumber Zinc
Zinc terdapat pada berbagai jenis bahan pangan. Tiram mengandung zinc dalam jumlah terbesar per takaran sajinya. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, daging dan unggas memenuhi mayoritas kebutuhan zinc karena lebih sering dikonsumsi. Sumber-sumber zinc lain yang dapat dikonsumsi adalah biji-bijian, kacang-kacangan, makanan laut, gandum-ganduman dan produk-produk susu.

Di dalam tubuh, sistem penyerapan zinc yang berasal dari sumber hewani berlangsung lebih baik daripada yang berasal dari bahan nabati. Penyebab utama penghambatan penyerapan zinc dari bahan nabati adalah tingginya kadar asam fitat dalam gandum-ganduman, serealia, kacang-kacangan dan sebagainya. Asam fitat dapat bertindak sebagai antinutrisi, yang mekanisme kerjanya adalah menghambat penyerapan zinc dari bahan nabati.

Panduan diet Amerika tahun 2000 telah menyarankan pola konsumsi gizi seimbang untuk memenuhi segala kebutuhan gizi tubuh. Tidak ada satu pun jenis pangan atau makanan yang mengandung seluruh zat bergizi yang berguna bagi tubuh.

Dalam kaitannya dengan zinc, kombinasi konsumsi daging, unggas, makanan laut, gandum-ganduman, polong-polongan kering, kacang-kacangan, dan sereal yang telah difortifikasi merupakan pilihan yang paling baik.

Hati-Hati Vegetarian
Defisiensi zinc dapat terjadi apabila asupan zinc ke dalam tubuh tidak memenuhi kebutuhan harian tubuh. Sebab lain, daya cerna zinc yang buruk akibat kehadiran asam fitat sebagai antinutrisi. Penyerapan zinc juga diatur secara homeostatis, yaitu meningkat penyerapannya di saat tubuh mengalami defisiensi, dan menurun jika konsumsinya berlebih.

Gejala-gejala defisiensi zinc adalah keterbelakangan pertumbuhan, kerontokan rambut, diare, penundaan pematangan seksual (hipogonadism), impotensi, ruam-ruam pada mata dan kulit (dermatitis) serta kehilangan selera makan. Gejala lainnya yang juga ditemukan adalah penurunan berat badan, masa penyembuhan luka yang lambat, abnormalitas indra penciuman dan pengecap akibat parakeratosis (penebalan ujung saraf sehingga tidak sensitif), serta kelesuan mental.

Seseorang sering sekali tidak menyadari kalau dirinya mengalami defisiensi zinc. Hal tersebut disebabkan tidak spesifiknya gejala-gejala yang ditimbulkan oleh defisiensi zinc. Gejala-gejala yang sama juga bisa disebabkan oleh kekurangan zat-zat gizi lainnya. Kelemahan lainnya adalah tidak tersedianya suatu metode khusus yang dapat mendeteksi defisiensi dan status gizi zinc pada manusia.

Sebagai generalisasi, umumnya dokter akan menganjurkan konsumsi suplemen zinc pada penderita kekurangan energi, peminum alkohol berat, penderita penyakit saluran pencernaan, serta pertumbuhan abnormal pada balita dan anak-anak. Anjuran konsumsi diberikan sebagai antisipasi terhadap terjadinya defisiensi zinc.

Vegetarian umumnya membutuhkan zinc dalam jumlah 50 persen lebih besar daripada kebutuhan zinc nonvegetarian. Hal ini mengacu kembali pada kandungan zat-zat antinutrisi bahan pangan nabati yang dapat menghambat proses penyerapan zinc dari jumlah yang dikonsumsi. Oleh karena itu, pada vegetarian sangat dianjurkan untuk mengonsumsi suplemen zinc.

Defisiensi zinc selama kehamilan dapat mengakibatkan pertumbuhan fetus yang lambat. Suplementasi zinc dapat memberikan antisipasi yang baik jika diberikan pada anak-anak yang memperlihatkan gejala keterbelakangan pertumbuhan yang belum terlalu parah. ASI tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan harian zinc pada balita usia 7-12 bulan.

Oleh karena itu, anak sebaiknya diberikan juga makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) yang kaya zinc. Sebaliknya, ibu menyusui juga harus memenuhi kebutuhan zinc secara tepat, baik dari bahan pangan alami maupun suplemen.

Kelompok lain yang juga rentan terhadap defisiensi zinc adalah peminum alkohol. Sekitar 30-50 persen peminum alkohol berat umumnya menderita defisiensi zinc. Peminum alkohol umumnya memiliki daya cerna dan daya serap yang rendah terhadap zinc.

Oleh karena itu, umumnya zinc dalam jumlah besar akan ditemukan pada urin peminum alkohol (Smith, 1988). Defisiensi zinc pada peminum alkohol akan diperparah dengan kondisi umum mereka yang jarang mengasup makanan dengan kandungan gizi seimbang. Sebagian besar kebutuhan energi mereka terpenuhi dari alkohol.

Kondisi tubuh lain yang dapat meningkatkan status defisiensi zinc adalah diare. Apabila seseorang menderita diare, kemungkinannya untuk mengalami defisiensi zinc menjadi lebih besar. Pada kasus diare, daya cerna zinc menurun sehingga menjadi lebih banyak yang dikeluarkan dari tubuh. Kondisi pascapembedahan, terutama pembedahan pada saluran pencernaan (usus buntu, penyakit Crohn), juga meningkatkan risiko defisiensi zinc.


Editor :
Sumber: