Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 20:22 WIB
Tempat Mengisi Perut, Istirahat, dan Belanja
Soelastri Soekirno | Sabtu, 20 September 2008 | 14:53 WIB
|
Share:

KOMPAS/AGUS SUSANTO
Warga membayar barang belanjaan di Alfamart an kendaraan mengisi bahan bakar di rest area Km 19 Tol Cikampek, Kamis (18/9).

Rest area atau tempat beristirahat di sisi jalan tol kini bukan lagi sekadar tempat untuk menyelonjorkan kaki bagi pengemudi agar bisa tidur sejenak melepas lelah. Fungsi rest area sudah lebih luas. Selain untuk istirahat atau istilah para pengemudi "mendinginkan ban", tempat itu juga menjadi tempat mengisi perut dan mencuci mata alias belanja.

Lihat saja fasilitas di tempat istirahat di jalan tol Jakarta-Merak, Jakarta-Cikampek, dan Jakarta-Bandung atau sebaliknya yang makin ciamik. Dari kejauhan, iklan restoran penjual makan an dan minuman tampak dengan jelas, seolah memanggil-manggil pemakai jalan tol. Begitu masuk ke sana, mata tak hanya tertumbuk pada deretan meja-kursi di pujasera beserta deretan menunya atau restoran dan minimarket, tetapi factory outlet (FO) pun tersedia. Sekalipun tak ada kebutuhan untuk makan atau istirahat, tetapi gara-gara ingin cuci mata di FO, mobil pun berbelok masuk rest area.

Satu kilometer menjelang rest area di Kilometer 13,5 jalan tol Jakarta-Merak, misalnya, sudah mulai tampak berderet papan reklame luar ruang berukuran besar yang atraktif, mulai dari kedai kopi internasional sampai restoran siap saji.

Rest area ini sudah mirip tempat berpelesir yang lengkap. Fasilitas utama berupa masjid yang cukup luas, yakni Masjid Ar-Raihan, toilet yang bersih dan luas, serta stasiun pengisian bahan bakar untuk umum dengan sembilan titik pengisian. Fasilitas tambahan lainnya yaitu berbagai restoran dan kafe, seperti Solaria, kedai kopi Starbucks dan Excelso, restoran siap saji AW, gerai donat Dunkin' Donuts, gerai roti Holland Bakery, hingga gerai es krim Baskin Robbins. Ada juga supermarket mini, FO, sampai toko buah Total Buah Segar.

Restoran yang menjual menu lokal juga cukup beragam, seperti restoran Padang Simpang Raya, Es Teler 77, Dapur Sedap, Bakso Lapangan Tembak, pujasera yang berisi berbagai penganan lokal, sampai warung tegal (warteg).

Daya tarik rest area kini memang mengesankan. Mau mengisi bahan bakar ada. Tergoda selera makan menunya juga beragam, mulai dari kelas pujasera, warung, sampai kelas restoran. Hendak mencari menu Betawi, Sunda, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan makan an laut atau masakan Padang, bahkan makan an khas Lombok dengan ayam taliwangnya pun tersedia.

Perlu ngopi atau meneguk minuman segar? Jangan khawatir, warung dan restoran di sana menyediakan aneka es, jus, teh, dan kopi dari seduhan kelas warung sampai kelas Starbucks. Pencuci mulutnya tinggal pilih. Setelah kenyang, duduklah sejenak di kursi pijat kesehatan untuk membuat tubuh rileks agar siap memacu kendaraan lagi hingga tujuan.

Yang menarik, rest area ini menjangkau segala kalangan. Tak cuma yang berkendaraan pribadi, tetapi juga truk-truk berukuran besar yang merupakan pelintas rutin di jalan tol antarkota ini. Pihak pengelola tentu saja juga berupaya melayani pelintas rutin ini dengan baik.

Di Kilometer 13,5 jalan tol Jakarta-Merak, misalnya, tersedia dua warteg yang menjadi tempat favorit bagi para sopir truk. Salah satu warteg itu menjual sop daging yang tersohor di kalangan para sopir, yakni sop daging Pak Wardi dan sop daging Pak Mamat.

Sop daging Pak Mamat dihargai cukup terjangkau, yakni Rp 12.000 per porsi, sudah termasuk nasi dan teh hangat. Warteg yang berdiri sejak satu tahun terakhir ini buka 24 jam.

Nurhalimah (39), pemilik warteg sop daging Pak Mamat, mengaku, dalam sehari bisa menghabiskan 50 kilogram daging. "Enggak mengira juga buka warteg di rest area bisa sangat menguntungkan juga," ujar Nurhalimah semringah.

Rest area juga mencoba berlomba-lomba menarik pengunjung. Muhamad Iqbal Hamidy, Direktur Operasional PT Mitra Buana Jaya Lestari yang mengelola tempat istirahat di Km 57 Jakarta-Cikampek, mengaku, pihaknya dengan terencana menjadikan masjid megah di tempatnya sebagai ikon.

"Biar banyak orang mendoakan dan menjadikan rest area sebagai barokah," kata Iqbal yang mengelola lahan seluas 5,2 hektar untuk menampung 300-an mobil, restoran, pujasera, dan kamar mandi.

Bisa jadi harapan itu terwujud pada Kamis (18/9). Menjelang Jumat dini hari kemarin, puluhan mobil tetap masuk dan keluar kawasan istirahat tersebut. Sebagian penumpang mobil yang turun langsung menuju ke masjid untuk shalat.

Sekalipun menyerahkan sebagian besar rest area kepada pihak swasta, bukan berarti PT Jasa Marga lepas tangan atas layanan jasa bagi pemakai jalan tol yang mereka kelola. "Kami tetap mengawasi para pengelola rest area itu," ujar Direktur Operasional PT Jasa Marga Adityawarman.

Sumber :
KOMPAS