Sukri (32) duduk terpekur. Sorot matanya kosong, menatap orang berjalan lalu-lalang. Namun, jarang yang mampir ke tokonya di lantai 4 bekas Gedung Matahari, Senen, Jakarta pusat. Sukri adalah satu dari ratusan pedagang buku eks-Kwitang yang mengaku omzetnya turun drastis setelah direlokasi dua pekan lalu. Tidak banyak aktifitas jual beli di sana. Para pedagang lebih banyak terdiam atau sekadar berbincang dengan sesama pedagang.
”Sepi banget di sini. Sampai pukul 16.00 sore ini aja belum ada penglaris. Nggak taulah gimana buat lebaran nanti,” keluh Sukri. Ia mengaku sudah 10 tahun bergelut dengan bisnis buku. Dan seharusnya bulan-bulan inilah waktu ramai pembeli mahasiswa karena memasuki semester baru.
Menurut Sukri, di lokasi baru omzetnya turun drastis. Di Kwitang ia dapat mengumpulkan keuntungan bersih sekitar Rp 100.000 per hari. Sedangkan di lokasi baru ia hanya dapat mengumpulkan sekitar Rp 30.000 per hari. Bahkan tidak jarang nihil penjualan.
Pada Agustus lalu pemerintah daerah Jakarta Pusat menggusur sekitar 100 pedagang buku kaki lima di Kwitang. Sekitar 60 pedagang telah menempati lokasi baru yang disiapkan pemerintah tersebut. Rencananya sisa pedagang lain akan masuk setelah perbaikan gedung selesai.
Sukri menuturkan kondisi tempat yang baru memang lebih baik dari sisi kenyamanan di banding di Kwitang. Namun, akses yang sulit menjadi penyebab utama sedikitnya pengunjung. ”Padahal udah dipasang banyak spanduk pemberitahuan di depan gedung soal lokasi baru ini tapi masih sepi aja. Kayaknya pembeli malas naik sampai lantai 4. Kalau di Kwitang kan di pinggir jalan,” ucapnya.
Ia mengatakan kendala lain adalah masih adanya pedagang buku yang berjualan di kwitang dengan membangun kios-kios kecil. ”Kalau semua pindah pasti ramai di sini. Pembeli lebih memilih di bawah karena dekat jalan besar,” tambahnya. Begitu pula Lukman (30). Pedagang yang telah sembilan tahun berdagang buku ini mengatakan omzetnya turun hingga 60 persen. ”Ya, sekarang bisa buat makan hari ini aja udah alhamdullilah,” ujarnya.
Ia dan para pedagang lain sangat berharap pemerintah menempati janjinya untuk menertibkan seluruh pedagang yang masih berjualan di kwitang. Selain itu ia mengharapkan promosi terhadap lokasi baru ini lebih digencarkan.”Yah ini lokasi baru, masih perlu penyesuaian. Mudah-mudahan keadaan kayak gini nggak lama,” katanya.
Memang pasar buku murah di Senen menjadi tumpuan bagi pelajar dan mahasiswa di Jabodetabek. Selain karena harganya miring, buku yang ditawarkan pun terbilang lengkap dari berbagai bidang ilmu.
Indri (20), mahasiswa semester lima di salah satu universitas di Depok, siang itu sedang berburu buku untuk kuliahnya. Menurut Indri, letak pasar buku di lantai 4 tersebut sangat merepotkan. ”Tiap semester baru saya cari buku di Kwitang. Di lantai 4 ini memang nyaman sih. Tapi capek banget naiknya,” ucapnya.
Warga Bekasi ini berharap pasar buku murah tetap ada karena sangat membantu bagi pelajar atau mahasiswa berkantong tipis. ”Di sini banyak buku-buku bekas yang layak. Terus buku-buku yang nggak ada di toko buku juga kadang dijual di sini. Jadi sangat membantu buat tugas-tugas,” ujarnya.(Sandro Gatra)

