Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 20:20 WIB
Bank Sentral Bergabung Cairkan Likuiditas
| Jumat, 19 September 2008 | 10:51 WIB
|
Share:
JAKARTA,JUMAT -  Mengeringnya likuiditas mendorong bank sentral besar dunia memompa dana agar pasar finansial tetap berdenyut. The Federal Reserve meningkatkan jumlah dollar yang tersedia untuk fasilitas swap-nya, dan boleh diakses oleh sejumlah bank sentral dunia. Dana itu kini berlipat empat, dari yang sebelumnya 67 miliar dollar AS, menjadi 247 miliar dollar AS.

Langkah ini untuk mengatasi kekurangan dollar di pasar. "Investor tak percaya pada bank," ujar Jim O'Neill, Chief Economist Goldman Sachs Group Inc.. Mereka pun mencari aman dan memindahkan dolarnya ke dalam instrumen emas dan surat utang negara.

Dalam kesepakatan baru itu, bank sentral Eropa (ECB) menggandakan jumlah dolar dari Fed menjadi 110 miliar dollar AS. Bank sentral Swiss mendapat jatah 27 miliar dollar AS. Adapun bank sentral Jepang, Inggris, dan Canada, masing-masing beroleh 60 miliar dollar AS, 40 miliar dollar AS, dan 10 miliar dollar AS. Tiap bank sentral bisa melelang dollar ini dalam pasarnya sendiri.

ECB, bank sentral Inggris, dan Swiss telah menyalurkan total 64 miliar dollar AS, Kamis (18/9). Sedang Di hari yang sama, The Fed juga menyuntikkan 50 miliar dollar AS ke dalam sistem perbankannya. Bank-bank sentral global memang gencar membanjiri pasar dengan likuiditas. Sejak bangkrutnya Lehman Brothers Inc., bank sentral telah mengucurkan lebih dari 200 miliar dollar AS lewat operasi pasarnya.

Berhasilkah upaya ini? Dengan kesepakatan yang terakhir tadi, pasar bereaksi positif. Selain bursa global sedikit membaik, kondisi pasar uang juga lebih tenang. Kamis (18/7), biaya pinjaman overnight dollar AS turun ke 3,84 persen  dari 5,03 persen di hari sebelumnya.

Berbeda dengan situasi dunia, di Indonesia likuiditas seret lebih karena Departemen Keuangan tak efektif merealisasikan anggaran. Dana yang parkir di Bank Indonesia pun sudah sebesar Rp 120 triliun. Kepala Ekonom BNI Tony Prastiantono menilai, BI dan Depkeu harus segera mencairkan dana. "Obatnya krisis ekonomi adalah likuiditas," tegasnya.

Di luar itu, suntikan dana bank sentral global tadi berdampak positif  bagi bursa kita. IHSG menguat 1 persen kemarin. "Indeks Asia akan bergerak seturut ekonomi AS. Sebab AS masih menguasai 30 persen finansial global," jelas pasar modal Felix Sindhunata. (Dyah Megasari,Diade Riva Nugrahani,Rika Theo )

Sumber :
KONTAN