Kamis, 24 Juli 2014

News / Internasional

Indonesia Masih Minati Kapal Selam Rusia

Kamis, 18 September 2008 | 23:05 WIB

JAKARTA, KAMIS - Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia Alexander A. Ivanov mengatakan bahwa Indonesia dan Rusia masih merundingkan pembelian persenjataan termasuk kapal selam. Perundingan soal itu masih berjalan," kata Ivanov seusai memberi kuliah bertema Rusia setelah Perang Dingin (Russia after Cold War) yang diselenggarakan oleh Pusat untuk Dialog dan Kerja sama antar Peradaban (CDCC) di Jakarta, Kamis (18/9) malam.
   
Dubes Ivanov mengatakan hal tersebut setelah sebuah laporan oleh kantor berita asing melansir pernyataan Menteri Pertahanan Juwono Soedarsono bahwa Indonesia menghentikan perundingan dengan Rusia untuk membeli kapal selam karena biaya perawatannya mahal. "Indonesia sekarang mempelajari tawaran Jerman dan Korea Selatan untuk pengadaan dua kapal selamnya untuk melipatgandakan armadanya," kata Juwono dalam jumpa pers dengan rekan sejawatnya dari Australia Joel Fitgibbon.

Indonesia tetap akan membeli tiga jet tempur Sukhoi dari Rusia dan telah memperoleh persenjataannya bagi empat pesawat Sukhoi yang sudah beroperasi. "Saya belum mendengar kabar atau membaca laporan tentang penghentian perundingan pembelian kapal selam khususnya," kata Dubes Ivanov.

Dalam ceramahnya, ia juga menyinggung hubungan bilateral antara Rusia dan Indonesia di berbagai bidang yang berjalan baik dan juga di forum internasional antara lain di Dewan Keamanan PBB di mana Indonesia duduk sebagai anggota tidak tetap sementara Rusia sebagai anggota tetap. "Kami serius menjalin hubungan dengan Indonesia," ujarnya.

Menurut dia, Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia merupakan mitra sangat penting bagi Rusia dan bersedia melakukan prakarsa-prakarsa bersama untuk mengadakan dialog antaragama dan peradaban. Ia mengatakan seperlima dari 150 juta penduduk Rusia adalah Muslim dan mereka hidup berdampingan secara harmonis dengan pemeluk Kristen atau Buddha.

"Kami akan menindaklanjuti hubungan kedua negara dengan pertukaran antara Muslim atau pemimpin organisasi Islam," ujarnya. Selain itu, Dubes Ivanov menyampaikan latar belakang serangan Georgia ke wilayah Ossetia Selatan dan aksi militer yang dilakukan terhadap negara tetangganya itu.

Ossetia Selatan dan Abkhazia telah menyatakan diri sebagai negara merdeka dan lepas dari Georgia. "Sejumlah negara seperti Bolivia, Venezuela, Belarusia telah mengakui kemerdekaan kedua negara tersebut," ujarnya.

Tentang hubungan Rusia dengan Amerika Serikat, ia juga menyatakan bahwa  AS tak dapat menyelesaikan masalah di dunia sendirian dan memerlukan negara-negara lain. "Kedua pemimpin  negara beberapa kali bertemu untuk mengadakan dialog," kata Dubes Ivanov.

Ia menyatakan bahwa dunia tak lagi mengenal istilah "unipolar" tetapi sudah "multipolar" ditandai dengan sejumlah negara yang mengalami kemajuan di bidang ekonomi dan politik.


Editor :
Sumber: