Kamis, 30 Oktober 2014

News / Megapolitan

Rezeki Bedug Kala Ramadan

Minggu, 14 September 2008 | 16:21 WIB

RAMADAN terasa tak lengkap jika tak mendengar bunyi bedug bertalu. Bunyi bedug lah yang membangunkan umat Islam untuk bersahur. Bedug lah yang menandai malam takbiran, dan bunyi bedug juga lah yang mengiringi hari kemenangan umat muslim.

Tak heran, perajin bedug selalu menjamur ketika Ramadan tiba. Misalnya, di sudut Kota Jakarta, tepatnya di Jalan Utan Kayu Barat. Kawasan tersebut dikenal sebagai pembuat bedug, sebab sebagian penduduknya adalah perajin bedug.

Salah satunyam Tonny FL dan keluarga. Saat Kompas.com bertandang ke rumah sekaligus tempatnya berdagang, Tonny sedang mengecat sebuah bedug kecil berdiameter 15 sentimeter.

Tetabuhan yang terbuat dari sebuah kaleng bekas cat yang salah satu ujungnya ditutup dengan selembar kulit kambing berbulu putih.Dua buah motif kepala ondel-ondel dibubuhkan pada kaleng dengan warna dasar merah muda itu.

Sebuah kuas kecil yang telah dicelup dalam cat coklat, dengan hati-hati dicoretkannya ke sketsa kepala ondel-ondel tersebut. Setelah itu, dia menambahkan motif bunga berwarna merah ke samping kepala ondel-ondel. Sesekali dia menerangkan bagaimana proses pembuatan bedug sederhana itu.

"Pada awalnya, kambing dikuliti dan direndam ke dalam air detergen sekitar 5-10 menit. Jangan terlalu lama biar tidak rusak. Lalu, kulit di jemur dengan cara dipanteng (digelar) supaya tidak mengerut. Setelah kering, diukur diameter kaleng yang sudah dicat dan akan dibuat bedug," tuturnya, Minggu (14/9) sore.

Menurut dia, rutinitas ini telah dilakoni sejak tahun '80-an, melanjutkan kerajinan bedug yang diturunkan kakek buyutnya. Tonny dan keluarga pun semakin sibuk saat Ramadan tiba seperti sekarang ini. Dalam satu malam, dia dan keluarga bisa membuat 50 bedug kecil dan 10 bedug besar.

"Kalau saya bikinnya pas habis Tarawih, soalnya pada puasa. Paginya baru ngerjain yang ringan seperti ngecat begini. Alhamdulillah, Ramadan tahun ini produksinya meningkat dari bulan puasa tahun lalu. Pada hari ke-13, kami sudah jual 80 bedug. Banyak pesanan dari kantor-kantor sama mall-mall," ujarnya.

Dia yakin penjualannya akan semakin bertambah pada lima hari sebelum Lebaran dan malam takbiran. Sebuah bedug drum dari kulit kambing ukuran kecil dijualnya Rp30.000, sedang Rp60.000, tanggung Rp150.000-Rp200.000, dan besar Rp350.000. Sementara bedug kulit sapi ukuran besar dari drum dijual Rp500.000 per buah dan Rp800.000-Rp2 juta per buah untuk bedug dari kayu jati.

Sementara untuk bahan baku, dia mengaku tak kesulitan untuk mendapatkan kulit kambing, sapi, apalagi drum dan kaleng. Kulit kambing, dia bahkan tak perlu beli karena sudah didapat dari usaha kateringnya yang khusus menyediakan masakan berbahan dasar kambing. Kulit sapi dibelinya dari rumah potong dengan harga Rp27.000 per kg untuk sapi coklat dan Rp35.000 per kg untuk sapi putih.

Kulit sapi putih, lanjutnya, memang lebih mahal dari kulit sapi coklat. Sebab, kulit sapi putih lebih tebal daripada kulit sapi coklat, sehingga bunyi yang dihasilkannya akan berbeda disamping keawetannya yang lebih rendah.

"Satu kambing ukuran sedang, dapat dibuat satu bedug drum besar. Kalau kambing ukuran super, bisa dua bedug. Terus satu lembar kulit kambing sedang dapat dibuat 6-7 bedug kecil. Sedangkan satu lembar kulit kambing besar bisa dibuat 4-5 bedug kecil," jelas Tonny.

Sayangnya, perajin bedug ini hanya bisa ditemui saat bulan puasa. Pada bulan-bulan biasa, mereka berganti profesi sebagai pedagang kambing untuk kitanan ataupun akikahan di samping menjual kulit kambing.


Editor :