JAKARTA, RABU - Pola pikir masyarakat Indonesia yang tidak mempedulikan masalah sampah memperlihatkan bahwa Indonesia saat ini masih terbelakang. Banyak orang berpikir, yang penting sampah tidak ada di dekat mereka dan dibuang jauh-jauh.
"Perlakuan sampah yang buruk tidak hanya di tingkat individu namun sampai perusahaan lewat pembuangan limbahnya," kata Menteri Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar, di Jakarta, Rabu (10/9).
Kasus longsornya gunungan sampah di Cimahi tahun 2007 dapat menjadi cermin buruknya pengelolaan sampah di Indonesia. Banyak sekali kerugian yang harus ditanggung. Selain jatuhnya korban jiwa, dampak lainnya adalah lingkungan yang tidak sehat bagi kehidupan masyarakat sekitar.
Rachmat menambahkan, sampah sebenarnya dapat menjadi sumber daya yang dapat diperbaharui dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Misalnya, sampah plastik yang dapat diolah kembali menjadi tas, dompet dan sebagainya. Sampah kotoran kini mulai dilirik sebagai bahan bakar alternatif.
"Singapura menjadi salah satu contoh bagaimana kebersihan dijaga dengan sangat baik dan sampah diperlakukan dengan teratur," ujarnya.
Budaya dan kesadaran individu menjadi kunci penting bagi Indonesia, khususnya dalam memperlakukan sampah. Mustahil tingkat keberhasilan mencapai 100 persen, namun setidaknya lewat kesadaran dan budaya dapat diminimalkan dampak buruk yang akan terjadi pada lingkungannya.

