SAMARINDA, SENIN - Terhentinya penerbangan tujuan Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur selama tujuh bulan membuat warga marah. Mereka melampiaskannya dengan menahan pesawat milik PT Dirgantara Air Service dan merusak fasilitas Bandar Udara Nunukan, Minggu (7/9).
"Satu pesawat sempat ditahan sekitar dua jam tetapi kemudian dibolehkan terbang lagi," kata Serfianus, Camat Krayan, Senin (8/9). Penahanan itu sebagai protes sebab DAS tidak melayani penerbangan sejak Januari sampai Juli 2008. Harga kebutuhan jadi mahal.
Pesawat yang ditahan itu jenis Britten Norman 2A dengan pilot Kapten Sudiono yang membawa enam penumpang dari Bandara Nunukan. Pesawat ditahan di Long Bawan, Krayan, lalu kembali bukan ke Bandara Nunukan melainkan ke Bandara Juwata, Kota Tarakan.
Akibat terhentinya penerbangan, kalangan warga asal Krayan yang sedang berada di ibu kota kabupaten tidak bisa pulang. Warga lalu melampiaskan kekesalannya dengan membakar sejumlah gerobak pengangkut barang dan memecahkan kaca bangunan Bandara Nunukan.
Manajer Area Kaltim DAS Ramly Effendy Siregar mengatakan, penerbangan tujuan Krayan dilayani oleh pesawat Cassa-212. Cassa tidak bisa terbang sebab pilot DAS belum mengantongi perpanjangan surat izin terbang.
Selain itu, menurut Ramly, DAS kewalahan membeli bahan bakar pesawat akibat kenaikan harga beberapa bulan lalu. Ada masalah keuangan dalam perusahaan sehingga penerbangan menjadi tidak lancar, katanya.
"DAS cuma memiliki empat armada Cassa yang jelas tidak cukup untuk mengangkut warga," kata Serfianus. Untuk itu, penerbangan perlu memakai pesawat berkapasitas lebih besar misalnya ATR. Namun, landas pacu perlu diperpanjang agar bisa didarati pesawat buatan Prancis tersebut. "Krayan tidak bisa dijangkau lewat sungai dan belum ada jaringan jalan sehingga cuma bisa lewat udara," kata Serfianus menegaskan.

