JAKARTA, SENIN - PT Garuda Indonesia (Garuda) menyatakan kesiapannya untuk menurunkan biaya tambahan bahan bakar atau fuel surcharge, menyusul desakan Menteri Perhubungan (Menhub) Jusman Syafeii Djamal.
"Insya Allah, dalam 10 hari ke depan, akan ada keputusan itu. Kami sih siap saja," kata Dirut Garuda, Emirsyah Satar, usai Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Komisi VIII DPR di Jakarta, Senin (8/9).
Penegasan tersebut terkait dengan pembentukan tim oleh Menhub Jusman Syafeii Djamal untuk memeriksa fuel surcharge yang saat ini umumnya belum diturunkan oleh maskapai penerbangan. "PT Pertamina sendiri telah menurunkan harga bahan bakar pesawat atau avtur karena itu, maskapai pun harus menyesuaikan," kata Menhub.
Harga avtur yang pada Agustus lalu mencapai Rp 11.825 per liter termasuk PPn, tetapi mulai 1 September sudah turun menjadi Rp 10.021 per liter. "Pakem internasional soal ini kan sesuai dengan mekanisme harga minyak internasional. Kalau naik, ya naik tetapi kalau turun, ya turun," kata Jusman.
Menurut Emirsyah, rentang 10 hari ke depan tersebut akan dilihat apakah harga minyak atau avtur yang ditetapkan Pertamina stabil atau tidak.
Sementara, bagi Kepala Komunikasi Perusahaan Garuda, Pujobroto menegaskan, dana perusahaan untuk pembelian avtur pada semester I tahun lalu hanya Rp 1,9 triliun.
Sedangkan sampai semester I 2008 kebutuhan avtur sudah mencapai Rp 3,2 triliun. "Dalam situasi normal, biaya avtur itu mencapai 20-25 persen dari total biaya, tapi kini sudah mencapai 40-45 persen," kata Pujobroto.
Sementara itu, Sekretaris Perusahaan dan Humas Lion Air, Hasyim Arsal Alhabsy sebelumnya juga menyatakan kesiapannya untuk menurunkan fuel surcharge. "Kami siap turunkan kapan saja. Jika Pertamina turunkan harga avtur 15 persen, kami juga siap turunkan sebesar itu," katanya tanpa bersedia merinci kapan penurunan fuel surcharge oleh Lion Air akan dilakukan.

