Laporan Wartawan Pos Kupang Maxi Marho
ENDE, SABTU - Bayi perempuan tanpa dubur (tanpa lubang anus) lahir di Puskesmas Riaraja, Kecamatan Ende, Kabupaten Ende, Rabu (30/7/2008) lalu. Bayi ini membuang air besar melalui alat kelaminnya dan selalu menangis setiap kali buang air besar.
Seharusnya bayi ini segera dioperasi demi keselamatan nyawanya, tetapi kedua orangtua bayi menghadapi kesulitan biaya untuk operasi. Sebagai petani miskin, uang Rp 28 juta untuk membiayai operasi bayi terlalu berat untuk mereka.
Bayi perempuan ini adalah buah cinta pasangan Yosep Risanto Babo (24) dan istrinya Domitila Gaa (32), warwa RT 02 RW 01 Dusun Boa, Desa Wolokaro, Kecamatn Ende, Kabupaten Ende. Bayi ini lahir pada Rabu (30/7/2008) sekitar pukul 12.00 wita. Oleh kedua orangtuanya, bayi ini diberi nama Yunita Soga.
Ketika lahir, pihak Puskesmas Riaraja yang membantu proses persalinan tidak memberitahukan kepada orang tua bayi tersebut bahwa putri mereka lahir dengan kondisi cacat yakni tidak memiliki dubur. Kedua orang tua bayi tersebut baru mengetahui setelah enam hari kemudian, saat bayi tersebut sudah dibawa pulang ke rumah dari puskesmas Riaraja dan terus menangis ketika baung air besar.
Yosep Risanto Babo (24) dan istrinya Domitila Gaa (32) ketika ditemui di kediaman mereka di Desa Wolokaro, Kecamatn Ende, Kabupaten Ende, Sabtu (6/9/2008) siang, mengatakan, tidak mengetahui persis mengapa putri pertama mereka lahir dalam keadaan cacat.
"Saat melahirkan, bidan dan dokter di Puskesmas Riaraja tidak memberitahukan bahwa anak saya tidak punya lubang pantat. Jadi saya pikir dia normal seperti biasa. Hari keenam baru saya tahu ketika saya lap pantatnya dan ternyata anak saya tidak punya lubang pantat. Pantas setiap kali dia buang air besar selalu menangis. Saya sedih sekali mengetahui hal ini," kata Domitila.
Menurut Domitila, mengetahui keadaan bayinya tidak punya dubur, ia bersama suaminya kembali konsultasi ke Puskesmas Riaraja. Pihak puskesmas lalu merujuk bayi tersebut ke RSUD Ende untuk ditangani lebih lanjut.
"Di RSUD Ende kami berkonsultasi dengan dokter. Saya tidak tahu nama dokternya. Dokter tersebut menyarankan kami untuk berunding dengan keluarga supaya bisa membawa bayi kami ke RSU Kupang atau ke Denpasar atau Surabaya untuk dioperasi. Cuma menurut dokter di RSUD Ende biaya operasinya diperkirakan sekitar Rp 28 juta, belum termasuk biaya transportasi dan biaya lain-lain. Dokter katakan, kalau sudah siap biayanya datang lagi ke RSUD Ende untuk diberikan rujukan," kata Domitila dibenarkan suaminya, Yosep Risanto Babo.
"Karena masalah biaya ini, kami belum bisa membawa anak kami untuk dioperasi. Kami terus berdoa supaya ada orang atau pemerintah mau membantu menyelamatkan nyawa anak kami ini," kata Yosep.
Kepala Puskesmas Riaraja yang hendak dikonfirmasi di puskesmas tersebut, Sabtu (6/9/2008) siang, tidak berhasil ditemui karena sudah kembali ke rumahnya di Kota Ende. Dokter yang bertugas di Puskesmas Riaraja juga tinggal di Kota Ende yang jaraknya sekitar 10 kilometer dari puskesmas sehingga tidak ada orang yang bisa memberi keterangan secara medis menyangkut kondisi bayi yang lahir tanpa dubur itu.
Bagi para pembaca yang ingin memberikan bantuan dapat menyalurkannya ke DKPK (Dana Kemanusiaan Pos Kupang) di Bank BNI 46 Cabang Kupang, nomor 0144 930 634 atau Bank NTT, nomor 01.16.007000-0. Kontak person DKPK : Etty 0852 530 30557. Ferry 0812 376 1557 (mar)

