Jumat, 28 November 2014

News / Bisnis & Keuangan

Pantura Jawa (Harus) Siap Terima Arus Mudik

Rabu, 3 September 2008 | 08:20 WIB

KURANG dari sebulan lagi pergerakan jutaan manusia kembali akan terjadi di Indonesia. Seperti tahun-tahun sebelumnya, jutaan orang akan berduyun-duyun mudik ke kota atau desa asal. Selanjutnya akan diikuti arus balik. Lalu, bagaimana kesiapan infrastruktur jalan menghadapi mudik dan arus balik Lebaran 2008?

Menghadapi itu, Direktur Jalan dan Jembatan Wilayah Barat Ditjen Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum Hediyanto menyatakan, ”Untuk pertama kalinya, jalan dari Jakarta ke Semarang telah empat lajur. Kami pastikan pelebaran dari tiga menjadi empat lajur di ruas Tegal-Pemalang dan Pemalang-Pekalongan selesai.”

Sebenarnya, empat lajur di jalur pantai utara (pantura) Jawa tak hanya berakhir di Semarang, tetapi di Trengguli (8,50 kilometer sisi timur Kota Demak). Dalam perjalanan dari ujung barat ke ujung timur Pulau Jawa Agustus lalu, Kompas mengamati kesiapan jalur mudik. Bermula dari Gerbang Tol (GT) Cikampek, potensi kemacetan ada di ruas GT Cikampek, yaitu pertigaan Jomin.

Hal itu seharusnya bisa diatasi dengan rekayasa lalu lintas di GT Karawang Barat, Kalihurip, atau Sadang. Selain itu, juga menertibkan ruas GT Cikampek-Jomin. Di ruas itu banyak warung serta perhentian truk dan bus. Selepas GT Cikampek ke arah timur hingga Losari, yaitu perbatasan Jawa Barat-Jawa Tengah, seharusnya tidak ada hambatan. Namun, hingga kini di ruas Cikampek-Sukamandi jalannya berlubang karena perbaikan belum selesai.

Ruas Eretan-Lohbener diharapkan tidak lagi macet karena sejak tahun 2007 telah dilakukan penambahan lajur, yaitu dari tiga lajur menjadi empat lajur. Perbaikan yang dilakukan di jalur pantura, yang masuk wilayah Jabar, menjadikan jalur pantura meningkat statusnya dari sedang menjadi baik. Namun, Departemen PU tetap harus memerhatikan ruas Pamanukan-Eretan, Arjawinangun-Palimanan, dan Kanci-Losari. Selain ruas Kanci-Losari, jalan di ruas-ruas tersebut masih bergelombang.

Menyeberangi Sungai Cisanggarung (batas Jabar-Jateng) dari Losari ke Tegal (40,5 km) kondisi jalan sedang. Pada bulan lalu di ruas itu masih bertebaran lipatan aspal dan lubang. ”Ruas Brebes-Tegal belum pernah ditingkatkan sejak 15 tahun silam,” ujar Hediyanto.

Menurut dia, ada rencana dibangun lintas baru Brebes-Tegal (12 km). Ini bagian dari Stategic Road Improvement Project Bank Dunia. Tidak jauh dari Losari, yaitu di pertigaan Tanjung, pemudik dapat menuju Purwokerto, Banyumas, Kebumen, dan wilayah lain di Jateng bagian selatan. Jalan Tanjung-Prupuk-Ajibarang-Wangon lebarnya sudah 7 meter dan kondisi jalannya sedang.

Sementara itu, di ruas Tegal-Pemalang dan Pemalang-Pekalongan kegiatan pelebaran jalan menjadi empat lajur dilakukan secara ”maraton”. Pembetonan dan pembuatan drainase jalan terus dikerjakan. Sayangnya, di proyek tersebut belum dipasang median jalan. Pemudik harus ekstra hati-hati menghadapi bus yang menyalip dengan ”buas”, memakai jalur arah berlawanan.

Sementara itu, di Alas Roban sudah ada tiga jalan. Kendaraan pribadi sebaiknya melintas di ruas utara. Ruas tengah dan selatan dipadati truk dan bus.

Di pantura Jateng juga ada beberapa jalan lingkar, yakni di Pemalang (7,25 km), Weleri (5,20 km), dan Kaliwungu (8,10 km). Bila Jembatan Bodri, di timur Pabrik Gula Cepiring, selesai diperbaiki, arus mudik dari Losari ke Semarang akan lebih lancar. Dari Semarang menuju timur, potensi kemacetan ada di ruas Pati-Yuwana yang hancur akibat banjir awal 2008. Departemen PU sedang meninggikan dan membeton jalan itu (8 km). Hingga Lebaran pembetonan masih dilakukan sepanjang 2 km sehingga setiap malam di ruas itu terjadi kemacetan.

Jalan di wilayah Jateng ruas Semarang-Bawen (35 km) telah empat lajur. Namun, untuk arah Yogyakarta, ruas Bawen-AmbarawaMuntilan, masih dua lajur jalan. Ke arah Solo, dari Jembatan Tuntang-Salatiga dan Salatiga-Boyolali, juga dua lajur. Namun, dari Boyolali hingga Solo telah memiliki empat lajur jalan meski ada penyempitan di Banyudono-Kartasura.

Masuk Jawa Timur

Untuk memasuki Jatim dari Jateng, ruas Rembang-Bulu (batas Jateng-Jatim), Tuban, Lamongan (jalur utara), hingga Gresik lebar jalan tujuh meter. Jalur lain yang bisa diambil adalah dari Tuban ke selatan menuju Babat lalu ke timur melintasi Lamongan. Jalan Babat-Lamongan-Gresik lebarnya 14 meter. Hanya saja, jalan betonnya tidak nyaman dilintasi.

Dari Gresik, pemudik dapat melewati Tol Surabaya-Gresik (21 km) untuk masuk Surabaya. Bila ingin menuju daerah ”tapal kuda” Jatim ataupun Malang, dapat melintasi Tol Surabaya-Gempol (40 km) meski putus di Porong.

Jalur tengah dan selatan

Lalu, bagaimana dengan jalur tengah dan selatan Jawa? Dari Jakarta-Bandung-Cileunyi (Bandung timur) ada jalan tol. Ruas Cileunyi-Cicalengka (9,07 km) telah empat lajur. Titik kemacetan adalah di Desa Ciherang, Nagreg. Di ruas itu dibangun Lingkar Nagreg (5 km). Menjelang Lebaran, diselesaikan Lingkar Nagreg tahap I (0,6 km). Diharapkan kemacetan di pertigaan jalan Cagak-Nagreg akan berkurang. Pemudik silakan lewat Nagreg!

Sementara itu, ruas Nagreg-Rajapolah-Ciamis lebar jalan hanya 7 meter, kondisinya sedang dan baik. Namun, menjelang Sungai Citanduy (batas Jabar-Jateng), jalan rusak ringan. Dari Citanduy-Majenang-Wangon jalannya rusak ringan. Adapun lebar jalan ruas Wangon-Purworejo-Yogyakarta 7 meter serta kondisinya baik dan sedang.

Di Yogyakarta, seluruh jalan kondisinya baik. Ruas Yogyakarta-Kartosura-Solo (60 km) seluruhnya baik dan telah empat lajur. Ruas Solo-Palur juga empat lajur, sedangkan Palur-Sragen-batas Jateng-Jatim dua lajur. Dari batas Jateng-Jatim hingga Surabaya, PU menjanjikan seluruh kondisi jalan baik. Namun, pada Agustus Kompas masih menemukan jalan rusak ringan mulai dari batas Ngawi hingga Caruban (sekitar 35 km). Jalan berkondisi baik hanya Mojokerto-Jombang yang telah 4 lajur.

Di Jawa momok arus mudik adalah pasar tumpah. Lokasi dan jumlahnya nyaris tak berubah. Di Jabar, di antaranya Ciasem, Sukamandi, Sukra, Patrol, Eretan, Tegal Gubug, Mundu, Gebang, dan Losari. Di Jateng, di beberapa kota dilengkapi jalan lingkar sehingga kemacetan akibat pasar tumpah itu tidak banyak terjadi.

Sumatera

Meski tidak ”seheboh” di Jawa, jalur mudik di Sumatera telah disiapkan. Tiga proyek utama di Jalur Lintas Timur Lampung, yakni tanjakan Tarahan (Sukamaju-Kalianda), pelebaran jalan Bujung Tenuk-Simpang Pematang (61,60 km) dari 6 meter menjadi 7 meter, dan perbaikan Jembatan Way Semuji (Sp Pematang-batas Sumatera Selatan).

Tahun ini Jalur Pantai Timur Lampung (204,30 km) dari Bakahueni, Sukadana, keluar di Menggala dapat dilalui. Pemudik tidak harus terkena padatnya lalu lintas di Bandar Lampung. Di Sumatera Selatan pengaspalan terjadi di ruas Pematangpanggang-Kayu Agung-Simpang Indralaya-Palembang dan Palembang-Betung-batas Jambi. Sebelum Lebaran, ruas Kayu Agung-Celikah (15 km) dijanjikan PU kondisinya akan baik.

Perbaikan juga dilakukan di Sugih Warah-Muara Enim (jalur lintas tengah), Lahat-Tebing Tinggi (jalinteng), dan Bitung-Sekayu.

Di Jambi, tanjakan di Kilometer 181+490 diturunkan dari 17 derajat ke 10 derajat (ruas Merlung-batas Riau). Jalur pendakian di Kilometer 174+140 dan Kilometer 149+400 (ruas Merlung-batas Riau) dilebarkan. Perbaikan dilakukan di ruas Simpang Tuan-batas Tanjab-Merlung. Persoalannya, awal September hujan mulai turun. Akankah jalan berkondisi baik dan sedang bertahan. Tidak kembali berlubang setelah hujan turun, seperti lazim terjadi selama ini. (HARYO DAMARDONO)


Editor :
Sumber: