Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 04:46 WIB
Kupu-kupu Malam Masih Terbang
Rita Ayuningtyas | Senin, 1 September 2008 | 06:36 WIB
|
Share:

GETTY IMAGES/ANDREAS RENTZ
Ilustrasi prostitusi.

JAKARTA, SENIN — Tiba saatnya umat Islam menjalankan ibadah puasa. Puasa untuk menahan segala nafsu dan amarah. Sebagai rasa hormat dalam menjalankan ibadah puasa ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengeluarkan surat edaran kepada sejumlah pengusaha tempat hiburan.

Menurut surat edaran Nomor 40/SE/2008, mereka harus menutup usaha selama 7 hari pada bulan Ramadhan ini. Oleh karena itu, sejumlah pengusaha tempat hiburan, terutama yang berskala besar, terpaksa menutup usahanya. Namun, tidak demikian dengan sejumlah 'warung remang' di Jakarta.

Pada Senin (1/9) dini hari, Kompas.com berkeliling Jakarta untuk membuktikan hal tersebut. Tujuan pertama adalah Jalan Mangga Besar, Jakarta. Menurut pengamatan Kompas.com, hampir semua tempat hiburan di sepanjang jalan itu tutup. Namun, sang kupu-kupu malam tetap terbang dengan bebasnya. Mereka memang tidak menampakkan diri di sepanjang Jalan Mangga Besar. Mereka lebih memilih 'beroperasi' di tempat-tempat tersembunyi, seperti di Taman Hiburan Rakyat, Lokasari.

Mereka tidak berkelompok, tapi sendiri-sendiri. Pakaian yang dikenakan pun masih minim, yakni hanya tank top dan hot pants. Beberapa di antara mereka sedang berbincang dengan laki-laki. Tak jelas apakah sang lelaki adalah mucikari atau pelanggannya.

Pemandangan ini juga terlihat di sejumlah warung remang-remang di dekat Stasiun Tanah Abang. Sejumlah kupu-kupu malam menunggu pelanggan di antara jalur-jalur rel kereta api. Kebanyakan berdiri tak jauh dari warung induk semangnya. Beberapa di antaranya sedang bersendau gurau dengan pelanggan. Sesekali, terlihat sang pelanggan memegang tangan wanitanya. Sementara, si kupu-kupu sedang asik menggelanyut manja di lengannya.

Namun, ada yang sedikit berbeda di tempat ini. Hmmm... setelah ditelisik, daerah itu jauh lebih sunyi dari biasanya. Ya, pada dini hari ini tidak ada lagi musik dangdut ataupun remix yang diputar keras-keras oleh pemilik warung. Selain itu, tak ada lagi lampu kelap-kelip di tempat tersebut. Semuanya tampak sunyi dan 'normal'. Tak jauh dari tempat itu, tepatnya di jembatan di atas Stasiun Tanah Abang, tampak sejumlah pekerja seks komersial (PSK) sedang menjajakan diri. Ada yang duduk di warung-warung, ada yang berdiri di dekat warung rokok, dan ada pula yang sedang melakukan transaksi.

Salah satu PSK yang sedang menjajakan diri di warung rokok pada Senin (1/9) dini hari ini adalah Sri. Ibu dua anak ini mengaku terpaksa menjajakan diri di bulan puasa demi menghidupi kedua buah hatinya. Kepada Kompas.com, dia mengaku memasang tarif Rp 60.000 sekali main. Padahal, saat dia 'bekerja' telah terdengar suara gendang yang dipukul dan diarak oleh gerombolan anak membangunkan warga untuk sahur.

Tak hanya para PSK, ternyata para waria juga masih bekerja pada hari pertama puasa ini. Jalan Palmerah Utara, Jakarta, merupakan salah satu tempat mereka beroperasi, tepatnya di perempatan Jalan Palmerah dan Jalan Gatot Subroto. Mereka baru membubarkan diri setelah bunyi tetabuhan selesai dipukul.