Laporan Wartawan Kompas Khaerudin
MEDAN, MINGGU - Hasil rukyat hilal untuk menentukan awal Ramadhan di Sumatera Utara, Minggu (31/8), tak tampak karena terhalang awan tebal. Rukyat hilal dilakukan di lantai 9 Kantor Gubernur Sumatera Utara.
Rukyat dilakukan tepat pukul 18.31 sampai 18.48 saat matahari mului tenggelam di ufuk Barat. Awan tebal menghalangi pemandangan hilal (bulan baru), meski tim ahli dari Badan Hisab dan Rukyat Provinsi Sumut dan Badan Meteorologi dan Geofisika Wilayah I Sumut telah menggunakan teleskop standar yang biasa digunakan melihat hilal.
Menurut Ketua Tim Ahli Badan Hisab dan Rukyat Provinsi Sumut H Arso, SH, Sag, MA, seperti tahun-tahun sebelumnya, hilal tak tampak saat dilakukan rukyat di Sumut. "Seperti tahun-tahun sebelumnya, rukyat hilal yang dilakukan di Sumut selalu terhalang cuaca buruk. Awan tebal menghalangi pengamatan meski telah menggunakan teleskop," ujar Arso.
Namun meski hilal tak terlihat di Sumut, menurut Arso, karena posisi bulan dengan matahari sudah berada pada tiga derajat hingga empat derajat, maka berdasarkan ketentun imkan rukyat, awal Ramadhan jatuh pada hari Senin. "Imkan rukyat menentukan, posisi hilal berada dua derajat di atas matahari, maka sudah bisa ditentukan awal puasa adalah hari berikutnya. Posisi hilal pada saat rukyat sudah di atas tiga derajat. Jadi, meski di seluruh Indonesia hilal tak bisa terlihat, aw al puasa sudah bisa dilakukan keesokan hari," kata Arso.
Dia juga menturkan, posisi bulan di atas matahari pada saat rukyat yang berada lebih tiga derajat, hampir dipastikan seluruh umat Islam di Indonesia akan menjalani puasa secara serempak, Senin ini. "Laporan rukyat hilal dari Sumut ke sidang istbat di Jakarta, hilal tak terlihat karena terhalang cuaca buruk," katanya.
Terkait penentuan awal Ramadhan, Kepala Kantor Departemen Agama Provinsi Sumut Syariful Mahya Bandar mengungkapkan, saat ini di masyarakat beredar jadwal imsakiyah Ramadhan yang berbeda-beda. Selain berpotensi membingungkan masyaraka t, jadwal imsakiyah Ramadhan yang berbeda ini kata Syariful bisa memecah belah umat.
Dia mengingatkan, agar setiap lembaga maupun instansi yang mengeluarkan jadwal imsakiyah Ramadhan untuk masyarakat, agar mengacu pada jadwal resmi yang dikeluarkan Badan Hisab dan Rukyat. "Karena ini juga ada masalah hukumnya, di mana di jadwal tersebut ditulis juga jadwal sholat. Kalau berbeda-beda kan masyarakat yang bingung," katanya.
Dalam waktu dekat, Kantor Wilayah Departemen Agama Sumut akan segera menertibkan peredaran jadwal imsakiyah yang berbeda-beda tersebut. "Pokoknya harus ada sumber dari Badan Hisab dan Rukyat. Tidak boleh menyebarkan jadwal imsakiyah tanpa sumber yang jelas," katanya.
Pemerintah Provinsi Sumut melalui Gubernur Syamsul Arifin mengatakan, akan membantu Badan Hisab dan Rukyat Provinsi Sumut membangun menara observasi di Sorkam, Kabupaten Tapanuli Tengah. Rencana ini pernah digagas semasa almarhum Gubernur Tengku Rizal Nurdin dengan biaya Rp 1 miliar. "Mungkin tempat observasi yang akan dibangun nanti bisa menelan biaya Rp 1,5 miliar sekarang ini. Kalau untuk kepentingan umat Islam, kami siap membantunya," katanya.

