SURABAYA, SABTU — Selama 63 tahun bangsa ini merdeka, dari segi pencapaian kemerdekaan politik dan demokrasi telah terjadi lompatan yang sangat fantastis. Namun, di bidang ekonomi bangsa ini sejatinya belum merdeka.
Penilaian terhadap kondisi ekonomi Indonesia ini disampaikan calon presiden Sutiyoso di hadapan Rapat Pimpinan Nasional Kamar Dagang dan Industri (Kadin) unit UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) di Surabaya, Sabtu (30/8).
Menurut Bang Yos, panggilan akrab Sutiyoso, ekonomi Indonesia masih dijajah modal asing. Modal asing yang seharusnya memberi keuntungan ternyata justru merugikan bangsa Indonesia. “Sekadar contoh, saya mendukung upaya pemerintah untuk melakukan renegosiasi kontrak karya pertambangan dan bagi hasil migas,” ujar mantan Gubernur DKI ini.
"Ironi pertama, pada saat harga minyak dunia melonjak kita yang pernah menghasilkan produksi minyak di atas 1 juta barrel kini malah menjadi negara konsumen minyak," sambungnya.
Ironi kedua, lanjut Sutiyoso, pada saat negara-negara Amerika Latin seperti Venezuela melakukan proyek nasionalisasi perusahaan tambang yang merugikan negara, Pemerintah RI tidak segera bertindak melakukan negosiasi ulang kontrak karya dan bagi hasil pertambangan dan migas.
Jelas sekali, menurut Sutiyoso, bila hanya mengandalkan modal asing tanpa topangan ekonomi kerakyatan, maka investasi asing hanya akan mengasingkan rakyat Indonesia dari kekayaan alamnya.
“Kita menolak pembangunan ekonomi yang hanya bisa memperkaya negara asing, sementara rakyat mati kelaparan. Rakyat tidak boleh dibiarkan mati kelaparan di lumbung padi,” tegas Sutiyoso.
Pembangunan ekonomi, kata Bang Yos, baru dikatakan berhasil bila mewujudkan cita-cita ekonomi dalam Pancasila, yaitu ekonomi yang berkeadilan sosial. “Kemakmuran masyarakatlah tujuan negara ini didirikan, bukan kemakmuran orang seorang,” ujarnnya.
Pembangunan ekonomi sekarang salah kaprah karena kue ekonomi yang besar dikuasai segelintir orang, sementara kue ekonomi yang kecil justru diperebutkan jutaan orang lainnya. (Sugiyarto)
