Sabtu, 1 November 2014

News / Megapolitan

Panas Membara dari Timur Indonesia

Sabtu, 30 Agustus 2008 | 07:20 WIB

SIAPA tak kenal menu ayam rica atau ikan bakar tude dengan dabu-dabu (sambal ala Manado, Sulawesi Utara). Hmm sedap dan nikmat tapi eit.. hati-hati masakan nan lezat itu bisa membuat lidah kita panas membara karena pedasnya lho.

Akan tetapi, biar kepedasan hingga lidah dan sekujur tubuh panas membara, tak rugi menyantap aneka masakan dari wilayah di timur Indonesia itu. Tak percaya? Cobalah pergi ke rumah makan Manado, misalnya di Beautika atau warung kaki lima Baku Dapa (Paula).

Bagi mereka yang tinggal lama di Jakarta, tentu tak asing dengan Rumah Makan Tinoor juga Restoran dan Catering Klabat.

Semua rumah makan tadi menyediakan aneka menu masakan khas Manado yang pedas. Inilah hebatnya masakan Manado. Meski serba pedas, jangan khawatir. Komposisi bumbu-bumbu yang lain pada masakan tetap mampu hadir dengan percaya diri tanpa over acting. Bahkan, rasa asin dari garam pada semua jenis masakan benar-benar terasa elegan, tidak norak alias berlebihan. Sungguh pas.

Tidak hanya itu. Soal mau rasa pedas, setengah pedas atau tidak, bisa diatur. Juru masak bisa diminta untuk memasak ikan atau ayam yang tidak berbumbu pedas atau sesuai selera Anda.

Sudah menjadi rahasia umum, sebagian wilayah Sulawesi Utara yang berada di dekat laut membuat ikan menjadi menu makanan utama. Namun jangan khawatir, umumnya mereka juga memasak ayam, bahkan kelelawar dalam beragam resep. Biasanya pula, rumah makan Manado menyediakan sayur cah (dimasak tumis) dan yang dicampur sayur lain atau ikan.

Tidak ketinggalan menu penutup yakni kue-kue tadisional, es kacang merah (Brenebon) dan es kelapa muda, serta klapertart (tar kelapa).

Woku dan kuah asam

Makanan pembuka pertama yang paling tepat dicicipi adalah sup ikan kakap atau marlin yang banyak daging.

Perasan jeruk dari buah lemon cui atau lemon khas Manado membuat rasa sup ikan atau sering disebut kuah asang ini sungguh menyegarkan. Selain menyegarkan, perasan jeruk ini yang dipadukan dengan daun jeruk purut, daun kunyit dan kemangi membuat ikan kakap tidak terasa dan tercium bau amis.

Potongan tomat segar dalam sup mampu menggoda mata dan menerbitkan selera.

Masakan berikut yang patut dinikmati, yaitu paniki atau kelelawar. Bisa juga mencicipi ayam, ikan, bebek, cumi woku (masakan sejenis pepes dimana ikan atau daging dibungkus dengan sejenis daun lontar dan selanjutnya dibakar).

Belakangan, orang tidak lagi menggunakan daun sejenis lontar dan diproses dengan cara membakar untuk masakan ini. Biasanya, ikan dan daging ini yang sudah diberi bumbu dimasak dengan menggunakan wajan (belanga) sehingga masakan ini diberi nama woku belanga.

Pilihan lain untuk menu utama ini adalah pampis (masakan cakalang asap yang disuir-siur), ayam bambu (potongan daging ayam yang dimasak dalam bambu khusus, yaitu buluh ikang atau bambu tali dengan ketebalan 0,5 sentimeter. Selanjutnya, bambu itu dibakar di atas api dari kayu).

Ikan atau daging tadi lebih nikmat dimakan hangat bersama nasi putih, kue nasi jaha (jahe), nasi bungkus (sejenis lontong atau ketupat).

Sebagai menu utama, sayur jangan dilupakan. Berbagai masakan sayur adalah cah kangkung; pangi (terbuat dari daun kluak); acar Manado; kembang pepaya atau yang diberi modifiasi sayur lainnya seperti pakis, kangkung, atau melinjo; atau sayur campur (terdiri dari potongan kentang, buncis, dan wortel ukuran dadu dan dicampur dengan bihun).

Makanan ini tidak lengkap, jika disajikan tanpa perkedel jagung dan dabu-dabu (sejenis sambal terdiri dari rajangan cabai rawit merah dan hijau, tomat, bawang merah, dan diberi perasan lemon cui yang memberi kesegaran pada sambal ini).

Setelah menikmati segala kepedasan itu, langsung guyur lidah dan kerongkongan dengan es kacang merah durian. Bisa juga dengan makan kue tradisional seperti apang (apam), cucur, bobengka, papoco, dan klapertart.

Pemilik Reastoran dan Catering Klabat Sientje Ramos Paenewen mengatakan, pada dasarnya semua masakan Manado menggunakan bumbu yang sama. Bumbu itu seperti jahe, serai, daun jeruk, daun bawang, kemangi, daun kunyit, bawang merah, bawang putih, dan rica atau cabai rawit.

”Yang membedakan masakan satu warung atau resto dengan yang lain adalah cara memasak dan takaran bumbunya,” kata Sientje. Seperti Sientje menggunakan masakan ala Tonsea dan Beautika menggunakan masakan ala Amurang.

Harga yang ditawarkan bervariasi sesuai dengan jenis makanan, tingkat kesulitan memperoleh bahan baku. Harga bervariasi antara Rp 2.000 per potong kue hingga Rp 75.000 per porsi ikan atau daging.


Editor :