TBILISI, JUMAT — Parlemen Georgia, Kamis (28/8), meminta pemerintah memutuskan hubungan diplomatik dengan Moskwa karena pendudukan wilayah Georgia oleh Rusia.
Para anggota parlemen dengan suara bulat menyetujui resolusi yang "memerintahkan kekuasaan eksekutif untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Federasi Rusia".
Mereka juga mengatakan bahwa "pasukan bersenjata Rusia, termasuk yang disebut penjaga perdamaiannya, dinyatakan sebagai pasukan bersenjata yang menduduki". Resolusi itu tidak mengikat dan keputusan akhir terletak pada pemerintah.
Resolusi itu disahkan satu hari setelah Georgia menurunkan hubungannya dengan Rusia dan menarik semua kecuali dua diplomatnya dari kedutaan besarnya di Moskwa.
Tindakan itu merupakan balasan atas keputusan Rusia mengakui dua wilayah Georgia yang memisahkan diri, Abkhazia dan Ossetia Selatan, sebagai negara merdeka.
Resolusi itu, berjudul "Mengenai Pendudukan Wilayah Georgia oleh Federasi Rusia", juga mengatakan bahwa Abkhazia dan Ossetia Selatan diduduki oleh Rusia dan menyatakan komitmen Georgia pada perjanjian gencatan senjata.
Resolusi itu menyatakan unit militer asing di Georgia sebagai "unit militer tidak sah" dan minta pada pemerintah untuk membatalkan perjanjian sebelumnya yang membolehkan penjaga perdamaian Rusia beroperasi di kedua wilayah itu.
Resolusi itu juga minta penuntut umum Georgia "untuk memeriksa fakta pembersihan etnik yang dilakukan Federasi Rusia" di wilayah Georgia. Georgia dan Rusia saling tuduh tentang pembersihan etnik di Ossetia Selatan selama konflik.
"Tidaklah mungkin untuk mempertahankan hubungan diplomatik dengan sebuah negara yang menduduki wilayah kami," kata Wakil Ketua Parlemen Gigi Tsereteli dari partai Gerakan Persatuan Nasional yang berkuasa. Dia mengatakan itu dalam pembahasan mengenai resolusi yang disiarkan televisi.
Ratusan ribu warga Georgia tinggal di Rusia, tapi tidak jelas apakah pemutusan hubungan diplomatik itu akan membiarkan mereka tanpa layanan konsuler.
Rusia telah mengirim tank dan tentara di wilayah Georgia sebagai balasan serangan Georgia pada 7 Agustus untuk merebut kembali Ossetia Selatan.
Moskwa telah menarik bagian terbesar dari pasukannya dari Georgia, Jumat, berdasar perjanjian gencatan senjata yang diperantarai Perancis, tapi ribuan tentara Rusia masih dikerahkan di dua wilayah pemberontak itu dan di "zona penyangga" di sekeliling wilayah itu.
