JAKARTA, KAMIS - Sebanyak 11 pesawat milik maskapai Garuda Indonesia terlambat mendarat hingga 50 menit, Kamis (28/8). Pesawat-pesawat itu melayang-layang di udara antara Halim Perdanakusuma dan Cengkareng sebelum mendarat di Bandara Soekarno-Hatta.
Menurut informasi yang diperoleh Warta Kota dari pusat informasi Officer In Charge (OIC) terminal 2, telah terjadi kerusakan (shut down) pada sistem komputer pendaratan (departure landing system) yang ada di menara kontrol Bandara Soekarno-Hatta. Karena itu, baik pesawat maupun menara kontrol kesulitan untuk mengadaptasi sistem pendaratan.
"Namun saya tidak dapat memberikan informasi lebih jauh, karena sistem itu milik maskapai Garuda Indonesia. Mungkin harus ditanyakan ke pihak Garuda dulu, karena data-data itu milik mereka. Yang jelas memang ada sejumlah pesawat yang terlambat landing dan itu memengaruhi proses pendaratan pesawat lainnya," ujar petugas OIC.
Kepala Humas Angkasa Pura II Trisno Haryadi mengatakan, pihaknya sudah menerima laporan tentang terjadinya masalah di sistem komputer untuk pendaratan itu. Namun, dia tidak bersedia memberikan keterangan lebih lanjut karena alat dan sistem itu milik maskapai yang bersangkutan.
Salah satu penumpang Garuda Indonesia GA 433 tujuan Mataram-Jakarta, Adi, yang sempat ditemui Warta Kota di terminal 2F, menyebutkan bahwa seharusnya pesawat yang ditumpanginya itu mendarat pukul 15.10, tetapi baru bisa landing sekitar pukul 16.00.
"Sekitar 5-10 menit sebelum mendarat sesuai jadwal, pilot dan pramugari mengumumkan bahwa pendaratan terlambat karena ada gangguan. Awalnya disebutkan cuaca, kemudian dilanjutkan sistem pendaratan mengalami gangguan. Cuma tidak disebutkan gangguan jenis apa," ujar Adi.
Akibat gangguan sistem pendaratan itu, sejumlah pesawat dari maskapai lain, termasuk di antaranya maskapai asing, seperti KLM dan Singapore Airlines ikut terkena imbas keterlambatan pendaratan antara 30-50 menit. Sesuai jadwal petang itu, rata-rata pesawat mendarat antara pukul 15.00 hingga pukul 16.00.
Sementara itu, ketika Warta Kota berupaya konfirmasi kepada Senior Manager Corporate Communication Garuda Indonesia Singgih Handoyo dan Secretary Corporate Garuda Indonesia Pujobroto, telepon genggam yang bersangkutan tidak diangkat.
