Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 03:56 WIB
Hai Parpol, Jadilah Sniper, Bukan Rambo
Rita Ayuningtyas | Kamis, 28 Agustus 2008 | 07:05 WIB
|
Share:

DHONI SETIAWAN
Pakar Marketing, Hermawan Kartajaya menyampikan presentasi pada acara Kompas Political Gathering di Bentara Budaya Jakarta, Rabu (27/8). Pada acara ini hadir sejumlah tokoh partai politik.

TERKAIT:

JAKARTA, KAMIS - Selayaknya sebuah perusahaan, partai politik juga memerlukan jurus marketing jitu dalam memasarkan program dan janjinya. Salah satu jurusnya, setiap parpol harus melatih juru marketingnya menjadi penembak jitu (sniper), bukan menjadi rambo.

Hal ini diungkapkan oleh Pakar Marketing, Hermawan Kartanegara, saat memberikan pemaparan tentang Political Marketing dalam acara Kompas Political Gathering di Bentara Budaya Jakarta, Rabu (27/8) malam.

Menurut dia, parpol harus menentukan siapa yang menjadi sasarannya. Parpol tidak boleh serakah dengan menembak seluruh kalangan, seperti halnya rambo. Parpol harus tahu kalangan mana yang cocok dengan programnya. "Kalau bukan sasaran kita, tinggalin saja. Orang marketing itu diajarin jadu sniper, bukan jadi rambo," ujarnya.

Hal ini merupakan salah satu dari 12 cara jitu untuk melumpuhkan para pemilih dalam pemilihan umum 2009 nanti. Jurus pertama adalah 4C, Change, Competitor, Customer, dan Company. Dia mengatakan meski rezim Soeharto telah runtuh, keadaan masih tetap saja, dalam artian demokrasi masih belum merata. Untuk maju, kadernya harus berubah sehingga Indonesia mampu berubah.

"Seperti Partai Damai Sejahtera, yang 30 persen calegnya itu nonmuslim dan PKS yang sudah mulai menerima kader dari nonmuslim," jelasnya.

Menurut dia, parpol juga harus meniru Kapal Api (kopi). Kapal api mengakui, lanjutnya, mereka bukanlah yang terbesar di Indonesia. Tapi, mereka adalah produk yang terbesar jumlahnya di daerah-daerah. Ini digunakannya untuk menjelaskan, parpol (terutama parpol kecil) sebaiknya menguatkan diri di daerah-daerah. Sebab, costumer (pemilih) berada di daerah-daerah.

Lalu, parpol juga jangan hanya menyediakan juru kampanye (jurkam) untuk menggaet pemilih di daerah. Parpol harus memiliki field marketing, yaitu orang yang menguasai daerah, tahu kompetitornya, dan tahu apa visi serta misi partai.

Jurus marketing selanjutnya adalah positioning, differensiasi, dan brand. Positioning menyangkut janji-janji serta strategi. Differensiasi lah yang kemudian akan memperkuat positioning. Setelah itu, terciptalah suatu brand.

"Parpol ambil satu saja spesifikasi. Misalkan tiru saja BMW yang mengukuhkan sebagai Luxury Car. Jangan diambil semua, mobil yang aman, nyaman, indah, dan lain-lain. Ambil saja satu. Terus, jangan tiru mobil Timor. Positioning sudah ada, dia mengatakan sebagai mobilnya Indonesia. Tapi differensiasi tak ada karena ternyata dia dibuat di Korea, sehingga brand tak terbentuk," tuturnya.

Selain itu, Hermawan juga membocorkan empat jurus lainnya yang harus dipraktikkan oleh parpol agar sukses di pemilihan presiden nanti. Menurut dia, parpol harus menentukan siapa segmentasinya, sehingga dapat menentukan strategi perang. Segmentasi yang cocok untuk parpol, terutama parpol kecil, adalah inovator dan visioner.

Parpol juga harus menggunakan semua elemen komunikasi untuk berperang. Cari, jelasnya, program yang menguras biaya kecil, tapi berdampak besar. "Kemudian, pikirkan apa yang akan dijual. Biasanya setelah menang ada dua golongan partai. Ada yang membuang janjinya dan ada yang mengonsultasikan apa yang bisa diberi oleh partai. Nah, jadilah yang kedua ini," tukasnya.

Hermawan juga mengatakan gunakan berbagai cara untuk menjual 'produk'. Hal yang paling sering dan paling rendah dampaknya adalah membagi-bagikan souvenir, entah berupa kaos, sarung, atau hanya sekedar rokok. Yang sedang populer saat ini, parpol menggunakan artis untuk 'berjualan'. "Namun, tingkatan paling tinggi adalah menjual ide atau gagasan," lanjut Hermawan.