Rabu, 3 September 2014

News / Regional

Diduga Stres, Pejabat Tampar Pramugari Lion Air

Selasa, 26 Agustus 2008 | 22:16 WIB

BATAM, TRIBUN - Mungkin ini kasus pertama dalam sejarah penerbangan Indonesia. Seorang pejabat Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi tiba-tiba menampar pramugari pesawat Lion Air, sesaat setelah mendarat di Bandara Hang Nadim Batam, Selasa (26/8). 

Aksi itu membuat heboh di Terminal Kedatangan karena terlihat gaduh ketika puluhan orang dari rombongan Departemen Tenaga Kerja Pusat, harus beradu mulut dengan petugas kabin maskapai Lion Air. Pemicunya adalah satu orang dari rombongan telah berlaku kasar terhadap Aski (23), pramugari Lion Air yang mendarat pukul 13.30 WIB dari Jakarta.

Kapolsek Bandara Hang Nadim, AKP Firdaus, membenarkan adanya perbuatan tidak menyenangkan yang diadukan pramugari Lion Air bernama Aski. Korban mengaku pipi bagian kiri ditampar seorang penumpang. Hanya saja, kasus ini tidak secara resmi dilaporkan ke Polsek, karena berselang 15 menit pramugari harus bertugas lagi untuk penerbangan berikutnya.

"Pelaku tidak kita amankan, dan melalui kesepakatan dan jaminan ketua rombongan, pelaku dilepaskan karena insiden ini ditargetkan sebagai pembelajaran saja. Karena tidak ada laporan resmi, kita tidak proses secara hukum. Lain ceritanya, kalau korban secara resmi melaporkan kalau dirinya telah dipukul oleh seorang penumpang. Selain itu, diduga pelaku dari rombongan pejabat Departemen Tenaga Kerja ini agak stres," ujar AKP Firdaus, Selasa (26/8) di Bandara Hang Nadim.

Dijelaskan Firdaus, kronologi kejadian diperkirakan berawal dari rasa kesal pelaku dan rombongan lain, akibat keterlambatan hampir 2 jam dari jadwal sebenarnya. Ujung-ujungnya, selama penerbangan, pelaku bersikap seperti tertekan dimana dirinya diminta supaya di periksa kesehatannya.

Puncaknya, menurut Firdaus, ketika pesawat baru mendarat, lalu pelaku berdiri dan pramugari langsung menegur pelaku untuk duduk. Ketika penumpang satu-persatu turun, tiba-tiba pelaku yang hendak turun melayangkan tangannya ke Aski.

"Sontak, kejadian tersebut membuat gaduh, dan Aski tidak terima. Akhirnya bersama pilot korban langsung mengadukan ke kantor kita. Sejauh ini, baru itu versi yang kita dapat. Sedangkan, pelaku yang dalam keadaan tidak terkontrol jiwanya langsung diamankan oleh rombongan lain, menuju bus penjemputan yang telah menunggu,"tutur Firdaus.

Menurut Firdaus, rombongan berjumlah 40 orang pejabat dari berbagai kota ini datang ke Batam hendak melakukan kunjungan kerja dua hari. Rombongan juga akan kembali ke Jakarta menggunakan pesawat Lion pada Jumat (29/8) mendatang.

"Kalau pengakuan teman-teman pelaku dinyatakan pelaku mengalami tekanan mental dan agak stres. Maka sementara kita lepas dan memegang kata-kata stresnya. Kita akan minta ke ketua rombongan, agar pelaku dibuktikan apakah stres karena dibuat-buat atau stres sebenarnya. Ini penting, karena disaat pelaku pulang nanti, dipastikan tidak boleh naik pesawat lagi. Takut, pada kejadian sama terulang lagi," kata Firdaus.

Sementara itu, Herlan, Station Manager Lion Air Batam mengakui kalau awak kabin ada yang mengadu akibat aksi pemukulan seorang penumpang.

"Sifatnya baru pengaduan, tidak membuat laporan secara resmi. Secara jelas kronologisnya kita belum paham betul, karena korban harus kembali bekerja karena harus terbang lagi ke Jakarta. Kita akan memastikan kondisi fisik korban dulu, dan harus dilakukan visum. Kalau memang berakibat fatal, maka korban akan melanjutkan aduan tadi menjadi pelaporan. Semua memang tergantung korban juga,"ujar Herlan.

Pelayanan Buruk

Dari teman-teman pelaku yang berkumpul di depan Polsek Bandara, satu yang dianggap paling tua, mengungkapkan kejadian ini lebih dari buruknya pelayanan yang diberikan oleh pramugari Lion selama penerbangan berlangsung.

"Mulai dari terlambat 1,5 jam lebih hingga pelayanan di pesawat. Pramugari selama diatas pesawat mondar-mandir terus, sambil menjajalkan aneka barang. Seakan-akan dari pihak penerbangan tidak ada rasa bersalah atas kejadian sebelumnya. Untuk itu, kami minta agar manajemen Lion Air memperhatikan sikap pramugari yang kami anggap tidak layak melayani penumpang selama penerbangan," ujar teman-teman pelaku.

Sekitar pukul 14.10 WIB, rombongan pejabat dari Jakarta ini meninggalkan Bandara Hang Nadim, beserta pelaku dan meninggalkan ketua rombongan di Polsek Bandara. Ketua rombongan harus membuat surat perjanjian yang disepakati dengan pihak Lion Air dan disaksikan oleh Polsek Bandara. (Dedi Suwadha)


Editor :
Sumber: