Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 03:36 WIB
Sultan Jadi Lawan Tangguh SBY
Wahyu Satriani Ari Wulan | Selasa, 26 Agustus 2008 | 18:38 WIB
|
Share:

JAKARTA, SELASA- Gubernur DIY Sultan HB X diperkirakan akan menjadi lawan tangguh bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam Pemilu 2009 mendatang. Meskipun belum mempunyai kendaraan politik, Sultan dinilai memiliki kewibawaan tradisional yang menyita perhatian publik.

Hal itu disampaikan Pengamat politik yang juga Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) Sukardi Rinakit saat diskusi Menilai Tingkat Presidensialitas calon Presiden RI 2009-2014, di Jakarta, Selasa (26/8).

"Dalam final round Pemilu 2009 nanti SBY dan Sultan akan bersaing," kata Sukardi. Dalam kajian Perhimpunan Pendidikan Demokrasi (P2D) tentang bobot calon presiden 2009-2014, Sri Sultan HB X menempati urutan teratas dengan skor 6,20. Diikuti Akbar Tandjung di urutan kedua dengan skor 6,01. Sedangkan SBY ada di urutan ketiga dengan skor 6,00.

Selain itu, Megawati Soekarnoputri di urutan keempat dengan skor 4,95, Jusuf Kalla berada di urutan kelima dengan skor 4,94, Rizal Mallarangeng urutan keenam dengan skor 4,72, Sutiyoso urutan ketujuh dengan skor 4,18, Gus Dur urutan kedelapan dengan skor 3,83, Wiranto urutan kesembilan dengan skor 3,17, Prabowo Subianto urutan kesepuluh dengan skor 2,72, Sutrisno Bachir urutan kesebelas dengan skor 2,50, dan terakhir Yusril Ihza Mahendra dengan skor 2,40.

Dalam kajian itu, Sultan dinilai memiliki komitmen pluralitas yang tinggi dengan skor 7,58 dibanding SBY yang hanya 6,75. Sultan juga memiliki Responsivennes dengan skor 7.00, sedangkan SBY dinilai memiliki integritas politik, HAM dan Korupsi tinggi 7,17.

Kajian ini menggunakan metode Fuzzy Cognitive Mapping (FCM) di mana sekelompok tim ahli menentukan penilaian terhadap kriteria calon presiden. Penilaian melalui diskusi Forum Pakar sebanyak 16 orang dari dosen, aktivis publik, aktivis organisasi massa, peneliti, filsafat, psikologi, sains, hukum, hak asasi manusia, dan kebijakan publik.

Forum pakar menggunakan delapan dimensi untuk melakukan penilaian, yakni integritas politik, kemampuan manajerial, decisiveness, komitmen terhadap pluralisme, komitmen terhadap kesejahteraan, pendidikan dan pengalaman, modal sosial, dan responsiveness.

Setiap dimensi dikaji berdasar rekam jejak, perilaku, kebijakan serta keputusan politik kandidat. Peneliti Ahli P2D Rocky Gerung mengatakan, kajian ini memperlihatkan kenyataan bahwa tidak ada calon pemimpin yang benar-benar ideal.

"Meski hasil penelitian belum tentu terbukti hasilnya dalam Pilpres mendatang, jangan terkejut dengan apa yang akan terjadi. Saat ini sudah ada 16 orang yang menyatakan siap maju pilpres. Jadi, banyak hal yang mungkin terjadi," kata Rocky.