Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 08:12 WIB
Kontemporer Etnik dari IPMI
Lusia Kus Anna | Selasa, 26 Agustus 2008 | 14:37 WIB
|
Share:
Kompas.com/L.K Anna
Foto:

Sebagian besar desainer yang tergabung dalam Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI), menyuguhkan karya mereka untuk busana kontemporer pada Festival Mode Indonesia - Jakarta Fashion Week 2008 (FMI-JFW). Mayoritas masih konsisten menggali kekayaan tradisi dari kain etnis melalui sentuhan gaya budaya urban.

Tengok saja karya Stephanus Hamy, Liliana Lim, Ari Seputra, Widhi Budimulia, Chossy Latu dan Era Soekamto pada hari ketiga FMI - JFW. Bukan semata-mata karena tema etnik kini sedang tren, melainkan karena aneka ragam motif etnis Nusantara adalah sumber inspirasi yang tak pernah kering.

Hamy memilih tema Metamorfosa. Namun, bukan kecantikan kupu-kupu yang diusung oleh ketua IPMI ini, melainkan perubahan fungsi kain tradisional Indonesia, dari fungsi adat menjadi lebih universal. Universal yang dimaksud oleh Hamy adalah kain dapat dibuat jaket, celana, sackdress, bahkan dipadukan dengan jins atau t-shirt.

Maka koleksi Metaformosa kali ini banyak menampilkan padu padan dari lurik Jawa Tengah, batik pesisiran, sarung Jawa Barat, tenun ikat Bali, tenun ATBM Lombok, songket Timor, hingga tenun ikat Flores. Warna cerah serta motif flora-fauna sangat dominan pada busana-busana bergaya urban yang chic dan sangat wearable tersebut.

Liliana Lim memilih untuk mengangkat tenun ikat yang dikombinasikan dengan material modern, seperti duches dan santung. Ia sengaja memadukan kelembutan dan feminitas. Liliana banyak menampilkan gaun-gaun selutut yang menarik perhatian dan gaun panjang dengan aksesori nuansa bebatuan yang menjadi salah satu ciri khasnya.

Salah satu desainer yang mencuri perhatian adalah Era Soekamto. Desainer muda yang sempat absen dari panggung mode ini mengetengahkan motif batik Parang rusak dan sekar jagat yang telah diproses melalui rumusan matematika fractal yang diolah menggunakan software khusus. Era bekerja sama dengan Pixel People Project, kelompok anak muda asal Bandung yang pernah memenangkan kompetisi penciptaan software.

"Fractal artinya merusak rumus untuk mendapat sesuatu yang baru. Maka batik kali ini akan tampil lebih futuristik dengan cutting yang lebih edgy," kata Era. Dengan warna dominan putih, abu-abu, semburat ungu, hijau, dan biru, fractal dikemas secara ringan, serta dinamis untuk wanita modern.