Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 02:51 WIB
Faktor Budaya Hambat Program KB
Abdi Susanto | Sabtu, 23 Agustus 2008 | 14:41 WIB
|
Share:

MEDAN, SABTU - Faktor budaya merupakan tantangan tersendiri bagi perkembangan program Keluarga Berencana (KB) karena sulit dihapus di tengah-tengah masyarakat.
    
Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sumut, Indra Wardhana, di Medan, Sabtu, mengatakan, biasanya kalau belum ada anak laki-laki, pasangan rumah tangga tidak akan berhenti memiliki anak.

Di Padang, kalau belum punya anak perempuan juga belum akan berhenti, padahal anak laki-laki dan perempuan itu sama saja. Ia mengatakan, saat ini tingkat kelahiran setiap keluarga di Sumut masih rata-rata lebih dari tiga anak dan ini jauh di atas skala nasional yang hanya 2,6.

Pasangan yang memiliki lebih dari tiga anak pada umumnya berasal dari keluarga tidak mampu, dan setelah dikaji kondisi itu disebabkan berbagai alasan, seperti takut menjadi peserta KB karena biaya yang mahal, adanya anggapan bahwa anak adalah aset untuk membantu perekonomian keluarga dan pendidikan yang rendah.    

"Untuk itu kami targetkan paling lambat tahun 2009 tingkat kelahiran setiap keluarga di Sumut tidak lebih dari tiga anak," katanya. Sementara partisipasi pria ber-KB di Sumut juga masih tergolong rendah, yakni sebesar 5,6 persen. Meski demikian Sumut masih tergolong tinggi dibanding angka nasional yang hanya 2,0 persen.
    
Saat ini pria yang ber-KB vasektomi paling tinggi di daerah Tebing Tinggi sebanyak 200 orang, Pakpak Bharat 21 orang dan Binjai 14 orang. "Kita akan terus berupaya mengajak pria untuk melakukan vasektomi, sebab vasektomi sama sekali bukan kebiri," katanya.

Sumber :
Antara