JAKARTA, SABTU - Sengat terik matahari membuat peluh banyak mengucur diantara kulit hitam yang mulai keriput, tapi hal itu tidak dirasakan oleh Saharudin. Dengan membawa sapu, teko air, serta gunting rumput yang terselip di pinggangnya, dia terus menjalankan kesibukannya. Semua harus diselesaikan sebelum fajar tenggelam, sebab dia masih mempunyai tanggungan untuk membersihkan dua makam lagi. Hal itu sudah menjadi lumrah dan bahkan makanan sehari-hari bagi Saharudin, sebab Saharudin sudah mengabdikan dirinya sebagai perawat makam sejak usianya 11 tahun.Bila usianya sekarang 49 tahun, berarti Saharudin sudah mengeluti profesi tersebut selama 38 tahun.
Tidak jarang kisah pilu dialami oleh Saharudin, seperti merelakan sebagian pendapatannya untuk upeti para preman setempat. "Biasanya mereka suka minta bagian bila kita dapat duit, tidak tahu, mereka kok tahu saja bila kita dapat rejeki. Kalau misalnya sepi gitu, nggak ada pemasukan, mereka juga nggak bakalan minta upeti," cerita Saharudin di Jakarta, Jumat (22/8). Bila sudah begitu, Saharudin hanya bisa pasrah dan memberikan beberapa lembar rupiah sesuai keinginan preman yang memalaknya. Karena dia beserta 50 orang temannya yang berprofesi sama tidak berani untuk mengambil tindakan, sebab mendapatkan ancaman dari para preman yang jumlahnya sekitar 15 orang.
Dari hasil merawat makam, Saharudin sudah dapat menyekolahkan empat orang anaknya. Dua orang yakni Irman dan Sri Wahyuni sudah lulus dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), sedangkan dua orang lagi Muhammad Jerri dan Muhammad Hari masih menapaki bangku sekolah.
"Jerri saat ini masih sekolah di SMK 31, Pasar Kambing. Kalau si bungsu, masih kelas empat Sekolah Dasar (SD) Negeri 14 di Karet Tengsin," ucapnya. Penghasilan Saharudin memang tidak seberapa, untuk mencukupi kebutuhan setiap bulan dia hanya mendapat Rp. 25 ribu untuk setiap perawatan makam yang telah dipasrahkan kepadanya. Sampai saat ini makam yang menjadi langganan Saharudin sudah berjumlah 30 makam, itu artinya Rp. 750 ribu sudah pasti dia terima setiap bulannya. Menurut Saharudin, pemasukan sebesar itu tidaklah cukup buat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Untuk yang SMK uang jajan seharinya aja Rp. 15 ribu, yang kecil Rp. 10 ribu. Kalau yang lulus SMK sudah bekerja, sedangkan yang masih sekolah masih tanggung jawab guwe. Jadi cukup nggak cukup ya dicukup-cukupin," beber Saharudin. Pengeluaran itu masih ditambah dengan uang kontrakan rumah yang berada di Rukun Tetangga (RT) 11/Rukun Warga (RW) 09, Kelurahan Karet Pasar Baru Timur, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, sebesar Rp. 400 ribu.
"Seringnya sih gali lubang tutup lubang, hutang sama tetangga dan teman untuk menutup kekurangan sehari-hari. Nanti pada saat dapat rejeki baru dilunasi," terangnya. Tapi menjelang Bulan Suci Ramadhan, Saharudin serasa ketiban durian runtuh. Sebab dalam satu hari, Jumat (22/8) Saharudin berhasil mendapatkan uang sebanyak Rp. 200 ribu. "Uang tersebut dari hasil memperbaiki makam. Karena tadi guwe kerjakan sendiri, jadi uangnya nggak dibagi sama teman-teman. Kalau udah rejeki nggak akan lari kemana, dan rejeki itu sudah ada yang ngatur," ungkap Saharudin.
Dalam menjalankan profesinya, Saharudin tidak mau melibatkan anaknya untuk sekadar membantu dirinya membersihkan makam. Saharudin khawatir anaknya nanti bakal mengikuti jejak profesinya. "Saya berharap, mudah-mudahan anak saya tidak ada yang mengikuti profesi bapaknya. Alhamdulillah yang sulung sudah bekerja di tempat penyablonan, yang cewek kerja di salah satu bank di Jakarta Pusat sebagai cleaning service," katanya.
Dalam sehari Saharudin mampu membersihkan enam sampai sepuluh makam setiap harinya. "Kalau badan capek paling enam makam, kalau lagi fit bisa sampai sepuluh makam. Selain itu juga tergantung orderan, kalau lagi ramai kayak menjelang Bulan Puasa maupun menjelang Lebaran seperti ini, walaupun badan sakit pasti guwe paksain," tekad Saharudin.
C11-08
