JAKARTA, SABTU - Menjelang Bulan Ramadhan banyak dari ahli waris yang akan berkunjung ke makam keluarganya yang sudah meninggal, momen ini jauh hari sudah dincar oleh penjual bunga tabur sebagai salah satu peluang bisnis yang menjanjikan. Banyak pedagang bunga tabur musiman yang memadati Kompleks Makam Karet Bival, tidak terkecuali Pasangan suami-istri (pasutri), Wahab (70) dan Dasimah (56).
Sepasang kakek dan nenek tersebut, tidak lagi menghiraukan usianya yang sudah renta. Mereka mengatakan, bahwa berdagang bunga tabur sebelum menjelang bulan puasa dan lebaran sudah biasa mereka lakukan. "Tahun 2008 ini lebih sepi dibandingkan bulan puasa tahun 2007 kemarin. Sembilan hari sebelum bulan puasa tahun kemarin, saya dapat mengantongi Rp. 200 ribu. Kalau ini sampai sore begini masih dapat Rp. 150 ribu," ujar Dasimah di Jakarta, Jumat (22/8).
Untuk modal saja, pasutri kakek-nenek ini membutuhkan Rp. 200 ribu. "Kalau hanya dapat Rp. 150 ribu berarti kita tekor dong. Sedangkan bunga tabur paling lama bertahan dua sampai tiga hari saja, setelah itu pasti layu dan tidak laku dijual," kata Wahab. Profesi penjual bunga tabur dilakukan untuk menyambung hidup, setelah Wahab sang suami, tidak lagi dapat mengayuh becak, karena adanya larangan dari pemerintah kota Jakarta.
Selain itu, pasutri ini juga tidak ingin mengantungkan hidupnya kepada kedua anaknya yang sudah berkeluarga. Mereka lebih senang untuk mandiri dalam menghidupi diri. Mereka mulai membuka bedaknya sejak pukul tujuh pagi. Bedak kecil tersebut menjual berbagai macam kebutuhan peziarah kubur, yang datang berkunjung ke Kompleks Makam Karet Bival, Jalan Karet Tengsin, Jakarta Pusat. Baru setelah lewat pukul tujuh malam hari, kedua pasangan tersebut kembali ke rumahnya di Rukun Tetangga 12 / Rukun Warga 07, Kelurahan Bendungan Hilir, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Untuk satu tangkai bunga sedap malam mereka jual pertangkainya dua ribu rupiah, satu platik bunga melati dihargai seribu rupiah, sedangkan satu bungkus mawar dijual seharga Rp. 2000. "Untuk sebotol air mawar saya jual seribu, itu saja masih ditawar oleh pengunjung separuhnya," kata Hamidah. Menurut Hamidah, memang sudah menjadi dasar para pembeli untuk membeli maupun mendapatkan barang dengan harga semurah-murahnya. "Tapi kalau sudah seribu masih ditawar juga, itu namanya kebangetan," celutuk Hamidah.
