MOSKOW, KAMIS - Rusia mempertimbangkan kembali kerjasamanya dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Berdasarkan kesepakatan yang disusun tahun 2002 antara Dewan Rusia dan NATO, kedua belah pihak yang pernah terlibat dalam Perang Dingin ini memulai beberapa proyek kerjasama diantaranya di bidang militer.
Peninjauan kerjasama di bidang militer itu ditegaskan oleh Deputi Menteri Luar Negeri Rusia Alexander Grushko seperti dikutip oleh kantor berita Interfax di Moskow. Komentar tersebut merefleksikan ketidakpuasan Rusia menyusul sikap memihak NATO terhadap Georgia di pertempuran antara pasukan Rusia dengan Georgia bulan ini.
Kerjasama NATO dan Rusia mencakup partisipasi kapal perang Rusia dalam patroli penangkalan terorisme di Laut Mediterania dengan saling menukar keahlian memerangi penyelundupan heroin keluar Afganistan. Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengisyaratkan bahwa NATO memerlukan Rusia lebih dari Moskow memerlukan NATO.
Menurut Lavrov, pemberantasan milisi di Afganistan terancam terbengkalai apabila Rusia menghentikan kerjasamanya NATO. Pernyataan Lavrov itu disampaikan setelah NATO menyusun dokumen berisikan sikap tegas, namun tidak konkrit mengenai cara menghadapi Rusia.
"Kami tidak ingin membanting pintu persahabatan untuk mengakhiri kerjasama dengan NATO. Segala sesuatunya bergantung pada NATO: Jika prioritas NATO adalah tanpa syarat mendukung rezim Presiden Georgia Mikhail Saakashvili, maka hal itu bukan kesalahan kami," tegas Lavrov.

