Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 02:21 WIB
Ryan Bunuh Aldo Setelah Lebaran
| Kamis, 21 Agustus 2008 | 06:27 WIB
|
Share:

JOMBANG, KAMIS — Pengakuan baru Very Idam Henyansyah alias Ryan (30) bahwa korban yang belum diketahui identitasnya alias Mr X adalah Asrori mengejutkan pihak-pihak yang terkait kasus itu. Terutama keluarga terpidana Imam Hambali alias Kemat (26) yang kini mendekam di penjara karena telah divonis sebagai pembunuh Asrori.

Sebab, jika pengakuan Ryan benar bahwa dialah pembunuh Asrori, maka berarti telah terjadi salah tangkap sekaligus salah pemenjaraan.

Untuk diketahui, dari 10 mayat korban pembunuhan Ryan yang dikubur di belakang rumah orangtuanya di Dusun Maijo, Desa Kaliwates, Kecamatan Tembelang, Jombang, baru 9 orang yang dikenali. Satu mayat yang belum teridentifikasi disebut Mr X, karena Ryan lupa identitas mayat itu saat kuburnya digali akhir Juli lalu.

Namun, dalam pengakuan terbaru kepada keluarganya yang menjenguk di tahanan Polda Metro Jaya 17 Agustus lalu, Ryan mengungkapkan bahwa Mr X itu adalah Moch Asrori (24), warga Desa Kalangsemanding, Kecamatan Perak, Jombang.

Ryan mengaku membunuh Asrori karena merasa terhina setelah Asrori—yang dianggapnya jelek dan pendek—mengajaknya kencan. Di komunitas gay atau waria di Jombang, Asrori biasa disapa Aldo.

“Kami harap polisi melakukan penyidikan ulang kasus pembunuhan Asrori dengan adanya pengakuan Ryan. Bahkan, perlu juga uji DNA terhadap keluarga korban dan Mr X yang ditemukan di belakang rumah Ryan,” kata Rina (35), kakak kandung Kemat, kepada Surya, Rabu (20/8).

Kemat kini meringkuk di LP Jombang setelah divonis sebagai pelaku utama pembunuhan yang diyakini sebagai Asrori, yang mayatnya ditemukan di kebun tebu di Desa/Kecamatan Bandarkedungmulyo, Jombang. Kemat divonis 17 tahun, sementara rekannya, Devid Eko Priyanto (17), divonis 12 tahun pada 8 Mei lalu karena ikut membantu pembunuhan. Satu tersangka lainnya, yaitu Maman Sugianto alias Sugik (28), masih dalam proses hukum.

Keluarga Kemat yakin Kemat tidak bersalah. Saat keluarga membesuk di LP Jombang, Kemat berulang kali mengaku tidak pernah membunuh siapa pun.

Menurut Alisa, keponakan Kemat, saat keluarga menjenguk di LP, Kemat mengungkapkan dirinya terpaksa mengaku sebagai pembunuh Asrori karena saat diperiksa dirinya mendapat siksaan polisi.

“Dia itu kan punya sifat kewanitaan. Jadi kena benturan fisik sedikit saja sudah tidak tahan dan merasa kesakitan,” imbuh Alisa (23). Kemat, kendati berjenis kelamin laki-laki, sehari-hari memang berperilaku seperti perempuan. Keluarga Kemat yakin Kemat tidak bersalah dan hanya menjadi korban salah tangkap.

Itu sebabnya, Hartini (ibunda Kemat) sangat memikirkan nasib Kemat hingga menderita darah tinggi. “Sejak adik saya masuk penjara, ibu sakit-sakitan. Dan puncaknya Jumat lalu, beliau terkena stroke,” jelas Rina.

Ketua RT setempat, Sutrisno, saat diminta tanggapannya mengungkapkan, masuk akal jika mayat yang ditemukan di kebun tebu Desa Bandarkedungmulyo pada 29 September 2007 (yang selama ini diyakini sebagai mayat Asrori) bukan mayat Asrori.

Sebab, jelas Sutrisno, saat itu identifikasi mayat hanya berdasarkan ciri-ciri fisik atau tubuh. “Sedangkan mukanya tidak dapat dikenali karena rusak. Posisi mayat saat ditemukan memang tertelungkup sehingga kemungkinan bagian muka sudah dimakan belatung lebih dulu,” kata Sutrisno.

Selain itu, lanjutnya, pakaian yang menempel pada mayat saat itu bukan pakaian yang biasa dipakai sehari-hari oleh Asrori. “Tapi ini hanya pendapat pribadi saja. Untuk tindak lanjut kasus ini, saya menyerahkan sepenuhnya pada proses hukum,” jelas Sutrisno.

Dibunuh Setelah Lebaran

Sementara itu, dari kerabat dekat Ryan, muncul informasi baru lagi. Saat dijenguk di Mapolda Metro Jaya, Minggu (17/8), Ryan mengaku membunuh Asrori alias Aldo beberapa minggu setelah mayat yang diyakini sebagai Asrori ditemukan di kebun tebu Desa Bandarkedungmulyo.

“Ryan mengaku membunuh Aldo sehabis Lebaran. Ryan bilang, ‘Aldo kan sudah dikabarkan mati, jadi saya bunuh saja dia sekalian’,” kata sumber tersebut menirukan Ryan. Sumber itu juga membeberkan, sebenarnya orangtua Ryan sudah mengetahui identitas Mr X adalah Aldo alias Asrori melalui pengakuan anaknya, Ryan. Namun, saat diperiksa polisi, mereka tetap bungkam. “Itu dilakukan mereka demi Ryan. Mereka khawatir kalau identitas Mr X diungkap, keamanan Ryan terancam karena akan membongkar salah tangkap pada kasus Asrori. Yang itu jelas menampar penegak hukum,” kata sumber dari kerabat Ryan yang tak mau disebut mamanya itu.

Bahkan, sumber tersebut mengungkapkan, pengakuan terbaru Ryan telah tercantum dalam BAP (Berita Acara Pemeriksaan) Ryan di Polda Metro Jaya. Berdasarkan catatan Surya, Ryan sendiri pernah dimintai keterangan oleh kepolisian Jombang terkait pembunuhan Asrori. Namun, status Ryan hanya sebagai saksi setelah ditemukan barang milik Ryan yang dibawa korban.

Sementara itu, sumber Surya di Polda Jatim menyebut, keterkaitan Ryan dengan Asrori adalah soal kepemilikan sepeda motor. Katanya, salah satu barang bukti yang dimiliki korban saat itu adalah sepeda motor bebek.

“Sepeda motor itu adalah milik Ryan. Ini diketahui dari penelusuran STNK dan BPKB yang ada di Samsat,” ujarnya. Tapi oleh keluarga Asrori, sepeda motor itu diakui murni milik Asrori, bukan milik Ryan. Ryan sempat diperiksa oleh polisi kala itu. “Dia (Ryan) diperiksa karena namanya tercantum sebagai pemilik sepeda motor itu,” tandas sumber itu, Rabu (20/8).

Apakah penyidik akan mengusut kembali kematian Asrori? Sumber ini tak berani memastikan.

Direktur Reskrim Polda Jatim Kombes Pol Rusli Nasution juga mengaku masih belum ada rencana membuka kasus itu untuk mencari tahu kebenaran pengakuan Ryan bahwa Mr X itu adalah Asrori.

“Kepada siapa dia (Ryan) mengaku seperti itu? Sampai saat ini dia tidak bilang seperti itu kepada penyidik,” kata Rusli menjawab Surya, tadi malam.

Rusli mengatakan, pengakuan Ryan bahwa Mr X adalah Asrori tidak cocok dengan pengakuan Ryan sebelumnya bahwa korban yang belum teridentifikasi itu dibunuhnya pada Desember 2006. Sebab, sesuai keterangan Kapolres Jombang AKBP M Khosim, Asrori tewas pada 2007 dan mayatnya ditemukan di kebun tebu, bukan di rumah Ryan.

Sayangnya, Kompol dr Heri Wijatmoko SpF DFM, salah seorang anggota tim forensik kepolisian yang ikut mengidentifikasi para korban Ryan, tak mau menjelaskan kapan kematian Mr X meski dia sudah memegang data itu.

“Saya tidak boleh bicara kapan matinya, dibunuh menggunakan apa atau bagaimana cara kematian korban,” kilahnya. Saat ini, dr Heri sedang berada di Jakarta untuk mengidentifikasi forensik melalui uji DNA, bersama tim Pusdokkes Mabes Polri. Dari DNA pembanding yang diambil dari empat anggota keluarga yang mengaku sebagai keluarga korban Mr X, sampai saat ini belum ada yang identik.

“Nantilah kalau memang sudah ada hasilnya pasti kita sampaikan,” kata Heri. (ST8/TJA/RIE)

Sumber :
Surya