BEIJING, RABU - Mantan juara dunia tinju kelas berat Evander Holyfield mengatakan penyebab utama kegagalan tim tinju AS di olimpiade Beijing adalah karena obsesi kepada uang.
Sebelum olimpiade Beijing berlangsung, Holyfield memperkirakan tim AS akan meraih tiga medali emas. Namun dari sembilan petinju yang dikirim, hanya petinju kelas berat Deontay Wilder yang masih bertahan.
"Mereka tampil buruk sekali," kata Holyfield di Beijing, Selasa (19/8). Semasa di ring amatir, Holyfield sempat memperoleh medali perunggu saat bertanding di Olimpiade Los Angeles pada 1984.
"Kita harus memperketat lagi program tinju amatir agar empat tahun mendatang hasilnya akan jauh lebih baik," kata Holy lagi. "Saat ini semua masalah bermuara kepada uang. Para petinju sekarang hanya berpikir soal uang. Makanya ada manipulasi saat para petinju tersebut disuruh bertanding dan kemudian pindah ke tinju profesional. Meraih medali emas menjadi tidak ada artinya."
"(Para manajer) sebenarnya tidak ingin para petinju tersebut meraih medali emas, karena prestasi ini justru dapat menaikkan harga mereka di tinju pro."
Sebagai petinju amatir, Holyfield mencatat 150 kali menang sebelum beralih ke pro pada 1984. Sebagai petinju lulusan olimpiade, Holyfield mencatat prestasi bagus di dunia pro dengan menjadi juara kelas berat ringan dan berat. Ia menyamai legenda-legenda tinju jebolan olimpiade lainnya seperti Oscar De La Hoya (Barcelona 1992), Muhammad Ali (Roma 1960), Joe Frazier (Tokyo 1964) dan George Foreman (Meksiko 1968). Mereka semua adalah peraih medali emas olimpiade.
"Pada masa lalu, tayangan tinju amtir selalu disiarkan televisi pada akhir pekan di AS," kata Holyfield. "Tayangan ini mengilhami anda untuk bertinju. Tinju amatir mengajari cara bertinju yang benar. Coba perhatikan tinju pro saat ini. Para petinju tersebut tidak mengerti bertinju dengan gaya yang berbeda," kata Holyfield.
"Tinju amatir sebenarnya jauh lebih berat dari pada pro. Anda harus menghadapi semua lawan yang masuk dalam undian. Tanpa dasar tinju amatir, sama saja seperti kita tidak melewati sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. Tinju amatir adalah sekolah kita sebagai petinju."
