Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 01:55 WIB
Angkutan Udara, Bisnis Sunset Atau Sunrise?
Hendra Gunawan | Selasa, 19 Agustus 2008 | 14:18 WIB
|
Share:

JAKARTA, SELASA - Bergejolaknya harga BBM dunia --dan kini masih bertahan di atas 110 dollar AS per barrel-- diprediksikan bakal memukul dunia penerbangan. Ini karena bahan bakar pesawat terbang saat ini menjadi komponen biaya utama, atau mencapai lebih dari 50 persen biaya yang dikeluarkan penumpang. Meski saat ini sudah turun, harga BBM yang sempat mencapai lebih dari 140 dollar AS per barrel, telah memukul sejumlah penerbangan di Amerika Serikat. Setidaknya, ada lima maskapai penerbangan di negeri itu bangkrut. Maskapai tak mampu mengambil keuntungan dengan harga BBM setinggi itu.

Akibat kondisi itu, Dirjen International Air Transport Association (IATA) Giovani Bisignani terpaksa meminta kepada maskapai penerbangan di seluruh dunia agar melakukan efisiensi. Harapannya, agar peristiwa yang menimpa maskapai AS tidak terjadi. "Harga fuel (BBM) terus meningkat, ini bisa menjadi hal buruk bagi bisnis penerbangan. Mau tidak mau, perusahaan harus melakukan efisiensi," kata Bisignani, seperti dikutip majalah Flight International.

Bisignani juga mengingatkan kepada pengusaha yang akan berinvestasi di maskapai agar berpikir ulang. Menurutnya, bisnis angkutan udara bisa jadi adalah bisnis sunset (akan tenggelam). Padahal, beberapa tahun lalu menjadi salah satu bisnis yang paling prospektif.

Hal senada diungkapkan Sekjen Indonesia National Air Carrier Association (Inaca) Tengku Burhanuddin. Kenaikan biaya penerbangan terus melambung karena harga BBM, akibatnya tiket pesawat terbang semakin melangit. Dampaknya, banyak penumpang yang beralih ke moda transportasi lain seperti, kereta api, bus dan kapal laut.

Dia mengatakan, target kenaikan penumpang tahun ini sebesar 20 persen bakal tidak kesampaian. "Sulit tercapai, bahkan banyak maskapai yang kesulitan, karena sekarang harga BBM sudah mencapai 60 persen komponen biaya penerbangan," ujar Tengku, baru-baru ini.

Selain karena BBM dunia, kebijakan Pertamina soal harga masih menjadi tanda tanya besar. Menurutnya, pada saat harga BBM dunia turun hingga 115 dollar AS per barrel, Pertamina justru menaikkan harga avtur. Tengku khawatir, harga BBM yang membuat kolaps maskapai AS bisa menular ke sini. "Prosesnya butuh waktu lama, tapi maskapai Indonesia bisa tutup karena BBM," kata dia.

Bahkan, Menhub Jusman Syafii Djamal turut wanti-wanti agar maskapai lebih mengefisienkan operasional pesawat agar tidak kolaps. "Caranya, dengan mengganti pesawat yang boros dengan yang lebih hemat dan dengan daya tampung lebih banyak," ujarnya.

Pesawat boros yang banyak dipakai di Indonesia, Boeing 737-200, sudah saatnya diganti dengan seri yang lebih baru. Menhub pun merevisi target kenaikan jumlah penumpang pesawat tahun ini menjadi 16-18 persen, dari semula 20 persen.

Masih Menjanjikan

Namun, operator penerbangan di Tanah Air, belum menyerah. Mereka mengklaim penerbangan nasional masih menjanjikan. "Rata-rata load factor kami 85 persen, dan kami akan terus menambah pesawat dan mengembangkan rute regional," kata Harwick Lahunduitan, Vice President Director Sriwijaya Air, dalam sebuah perbincangan.

Harwick meminta agar penerbangan Indonesia tidak disamakan dengan AS. Menurut dia, Boeing 737-200 akan menjadi boros bila menjalani rute penerbangan lebih dari satu jam. Tetapi, bila kurang dari satu jam, tingkat efisiensinya sama dengan pesawat lain.

Sriwijaya saat ini masih banyak mengoperasikan rute-rute yang kurang dari satu jam, seperti Jakarta-Pangkalpinang, Surabaya-Malang. "Penerbangan masih tetap menjadi bisnis yang sunrise. Buktinya, maskapai terus berkembang di tengah gejolak harga BBM," ujarnya kepada PersdaNetwork.

Namun dia berharap, ada keberpihakan pemerintah mengenai harga BBM. "Bila harga BBM bergejolak saja kita berkembang, apalagi bila harganya stabil," kata dia.

Sumber :
Persda Network