Sabtu, 26 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 26 Mei 2012 | 01:55 WIB
Kadin: Kualitas Pertumbuhan 2009 Sama Buruk
| Selasa, 19 Agustus 2008 | 13:35 WIB
|
Share:

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO
Industri kecil dan menengah terbukti menjadi salah satu tiang utama dalam membangun perekonomian karena menyerap tenaga kerja. Salah satunya adalah industri kerajinan kayu Maharani, Pucung, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (22/7).

TERKAIT:

Laporan Wartawan Kompas Stefanus Osa

JAKARTA, SELASA - Pemerintah boleh saja optimis pertumbuhan ekonomi pada akhir tahun depan dapat mencapai 6,2 persen, karena data yang dimiliki menunjukkan adanya peningkatan ekspansi kredit dan peningkatan kegiatan usaha. Namun bagi masyarakat dan pelaku usaha, persoalannya adalah kualitas pertumbuhan. Buruknya kualitas pertumbuhan 2009 pasti tidak beda dengan tahun 2008, yakni pertumbuhan yang tak mampu meningkatkan daya beli konsumen, memerangi kemiskinan dan menyerap angkatan kerja baru maupun lama yang kini masih berstatus pengangguran.

Bambang Soesatyo, Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia, Selasa (19/8), di Jakarta, mengatakan, motor pertumbuhan masih bertumpu pada permintaan atau konsumsi dalam negeri, ekspor minyak dan gas, produk pertambangan, serta ekspor produk perkebunan yang harganya masih lumayan bagus. "Pemerintah tidak realistis kalau berasumsi akan terjadi ekspansi kredit yang signifikan sepanjang Agustus-Desember tahun 2008. Pasar kredit tahun depan bahkan bisa lebih rendah dari tahun ini," ujar Bambang.

Dia menilai sulit mengharapkan adanya ekspansi kredit yang ekstrim pada tahun 2008 dan 2009, karena dua alasan. Pertama, biaya modal makin mahal karena bank akan menaikkan suku bunga kredit menyusul BI rate yang terus menerus naik. Kedua, negara ini akan melaksanakan pemilu legislatif dan pemilihan presiden. Suasananya tidak kondusif bagi pengusaha, karena bobot risiko meningkat.

"Agregat demand bisa terjaga, jika pemerintah efektif mengendalikan laju inflasi. Kalau laju inflasi liar, kemerosotan daya beli akan meluas hingga ke kelompok kelas menengah. Sekarang ini, kekuatan permintaan masih lumayan karena buying power kelas menengah masih terjaga," ujarnya.